Ramadan selalu menjadi periode dengan aktivitas ekonomi dan transaksi masyarakat yang meningkat. Berbagai kebutuhan selama bulan suci—mulai dari belanja online, pembayaran zakat dan donasi, pengiriman uang kepada keluarga, hingga pemesanan tiket perjalanan untuk mudik Lebaran—mendorong penggunaan layanan keuangan digital semakin intens.

Tren ini tercermin dari pertumbuhan transaksi digital beberapa tahun terakhir. Data Bank Indonesia terbaru mencatat bahwa hingga Januari 2026 terdapat 4,79 miliar transaksi digital, tumbuh 39,65% secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, penggunaan QRIS juga meningkat signifikan dengan pertumbuhan mencapai 131,47% (yoy).

Sejalan dengan tren tersebut, data olahan internal juga menunjukkan proyeksi peningkatan volume transaksi hingga 200% melalui Jaringan Link selama periode Ramadan-Idulfitri (RAFI) tahun ini, dengan QRIS menjadi kanal pembayaran dengan proyeksi pertumbuhan tertinggi.

Pertumbuhan ini menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan layanan keuangan digital dalam kehidupan sehari-hari. Namun di balik kemudahan tersebut, masyarakat juga perlu semakin memahami risiko yang menyertainya, terutama terkait keamanan transaksi digital.

Lonjakan Kasus Penipuan Digital

Seiring meningkatnya aktivitas digital, berbagai bentuk kejahatan siber juga turut berkembang. Modus penipuan semakin beragam dan kerap memanfaatkan celah kelengahan pengguna.

Data Indonesia Anti Scam Centre (IASC) menunjukkan bahwa sejak awal beroperasi 2024 hingga 14 Januari 2026, lembaga tersebut telah menerima 432.637 pengaduan penipuan digital dengan total nilai kerugian yang tak tanggung-tanggung mencapai Rp9,1 triliun.

Jenis penipuan yang paling banyak dilaporkan meliputi penipuan transaksi belanja online, impersonation atau panggilan palsu (fake call), penipuan investasi, penipuan lowongan kerja, serta penipuan melalui media sosial. Selain itu, love scam juga disebut menjadi salah satu modus yang semakin sering ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pertumbuhan transaksi digital yang pesat memang membuka akses layanan keuangan yang lebih luas bagi masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital yang terus mengembangkan berbagai modus penipuan seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI). Situasi ini semakin relevan untuk diperhatikan pada periode dengan aktivitas transaksi tinggi seperti momen mudik lebaran.

Ramadan Menjadi Momentum Penipuan Digital

Selama Ramadan, masyarakat cenderung lebih aktif bertransaksi sekaligus lebih responsif terhadap berbagai penawaran yang beredar di ruang digital. Aktivitas belanja meningkat, penggalangan donasi semakin marak, dan kebutuhan perjalanan mudik mulai dipersiapkan.

Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menyebarkan berbagai penawaran atau informasi palsu yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam 10 hari pertama Ramadan saja telah tercatat 13.130 laporan penipuan dengan 22.593 rekening terlapor.

Dalam praktiknya, pelaku penipuan sering memanfaatkan konteks yang dekat dengan kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan menjelang Lebaran. Penawaran promo Lebaran, jual beli kendaraan untuk kebutuhan mudik, hingga informasi pengiriman paket atau hampers fiktif menjadi beberapa pintu masuk yang kerap digunakan untuk menjalankan aksi penipuan.

Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai

Memahami berbagai modus penipuan menjadi langkah awal yang penting untuk melindungi diri saat bertransaksi secara digital. Beberapa modus berikut termasuk yang paling sering ditemukan.

Phishing atau Smishing

Pelaku mengirimkan tautan melalui SMS, email, atau aplikasi pesan yang menyerupai pemberitahuan resmi dari bank atau layanan tertentu untuk mencuri data pribadi seperti PIN, password, atau kode OTP.

Donasi atau Zakat Palsu

Pelaku memanfaatkan semangat berbagi selama Ramadan dengan menyebarkan informasi penggalangan dana palsu melalui media sosial atau pesan berantai.

Penipuan Belanja Online

Pelaku menawarkan produk dengan harga sangat murah melalui media sosial atau toko online palsu. Setelah pembayaran dilakukan, barang tidak pernah dikirimkan.

Penipuan Tiket Mudik

Menjelang Lebaran, pelaku menawarkan tiket perjalanan atau layanan transportasi dengan harga menarik namun ternyata tidak valid.

Tips Aman Bertransaksi Selama Ramadan dan Mudik Lebaran

Mengenali modus penipuan saja belum cukup. Masyarakat juga perlu menerapkan langkah-langkah sederhana untuk menjaga keamanan transaksi digital dalam aktivitas sehari-hari.

Beberapa langkah berikut dapat membantu meminimalkan risiko penipuan:

  • Gunakan kanal pembayaran resmi dan terpercaya
  • Periksa kembali alamat website atau tautan sebelum memasukkan data pribadi
  • Jangan pernah membagikan kode OTP, PIN, atau password kepada siapa pun
  • Pastikan lembaga donasi memiliki kredibilitas yang jelas
  • Waspadai promo atau penawaran dengan harga tidak wajar
  • Aktifkan notifikasi transaksi pada aplikasi perbankan atau dompet digital
  • Segera laporkan indikasi penipuan melalui kanal resmi seperti Indonesia Anti Scam Centre (IASC): https://iasc.ojk.go.id/

Literasi Digital untuk Transaksi yang Lebih Aman

Digitalisasi sistem pembayaran memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas keuangan sehari-hari. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan literasi digital dan kewaspadaan yang memadai.

Sebagai bagian dari ekosistem sistem pembayaran digital nasional, Jalin memandang bahwa penguatan literasi digital dan keamanan transaksi merupakan elemen penting dalam membangun ekosistem pembayaran yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua. Dengan pemahaman yang baik mengenai berbagai modus penipuan, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara lebih aman, termasuk selama momentum Ramadan dan mudik Lebaran.

Artikel Terbaru