Adopsi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelegence/AI) kini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan fondasi baru yang marak digunakan untuk efektivitas bisnis dan kehidupan sehari-hari. Mulai dari otomasi sistem operasional-bisnis perusahaan hingga analisis data, AI dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Fenomena ini diperkuat oleh data yang dihimpun Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada kuartal 1 2026, menunjukan tingkat adopsi AI di Indonesia telah menyentuh angka 92% dalam hal pemanfaatan untuk produktivitas nasional. 

Namun, di balik perkembangan AI yang semakin canggih, beragam ancaman kejahatan siber juga ikut berevolusi dengan memanfaatkan AI itu sendiri. Ancaman terbaru yang saat ini menjadi sorotan dari berbagai pelaku industri keamanan siber adalah kehadiran Dark AI.  

Kaspersky, perusahaan keamanan siber global, menjelaskan bahwa Dark AI mengacu pada penerapan model bahasa besar (LLM) lokal atau jarak jauh yang tidak dibatasi dalam kerangka kerja penuh atau sistem chatbot yang digunakan untuk tujuan berbahaya, tidak etis, atau tidak sah. Sistem ini beroperasi di luar kendali keamanan, kepatuhan, atau tata kelola standar, yang seringkali memungkinkan kemampuan seperti penipuan, manipulasi, serangan siber, serta penyalahgunaan data tanpa pengawasan. 

PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) sebagai digital enabler sistem pembayaran digital nasional, memiliki perhatian khusus pada perkembangan kejahatan siber yang dipersenjatai oleh AI.  

Aries Fajar Kurnia – SVP Infrastructure & Security Management Jalin mengemukakan insight-nya mengenai fenomena tersebut dalam kesempatan paparan Security Operation Center (SOC) yang dilakukan bersama perusahaan yang berada dalam ekosistem Holding BUMN Danareksa. 

Menurutnya, langkah proaktif diperlukan untuk mencegah serangan dapat terjadi dalam ekosistem pertahanan siber perusahaan. “Kami mengambil inisiatif melalui aktivitas monitoring, analisa, serta deteksi terhadap aktivitas mencurigakan pada sistem dan jaringan perusahaan guna membantu mencegah potensi serangan siber. Dengan memanfaatkan otomisasi AI, kami menilai upaya tersebut lebih efektif untuk melawan potensi kejahatan yang saat ini banyak menggunakan AI juga,” papar Aries. 

Dalam perannya sebagai SOC, Jalin memastikan ketahanan seluruh infrastruktur sistem IT yang dimiliki masing-masing perusahaan terhadap ancaman kejahatan siber, guna terciptanya tata Kelola IT yang unggul dan andal di ekosistem Holding BUMN Danareksa. Dengan mengoperasikan platform Security Information and Event Management (SIEM), Jalin memastikan pelindungan yang real-time dan terpusat untuk setiap deteksi ancaman dan eskalasi yang diperlukan. 

Pengalaman Jalin dalam menjaga keamanan siber di ekosistem Holding BUMN Danareksa telah membuktikan kapasitasnya dalam menyediakan layanan yang efisien untuk memperkuat ketahanan infrastruktur IT. Berbekal rekam jejak tersebut, Jalin terus memperluas perannya untuk membantu perusahaan dari berbagai sektor dalam membangun pertahanan siber yang andal melalui konsep shared services and infrastructure.

Artikel Terbaru