Keterangan Foto (Kiri-Kanan)*
Prof. Dr. Ir. H. Syamsul Bahri, M.S. (Batik Merah) selaku Ketua Pengurus BACenter dan Ario Tejo Bayu Aji (Batik Hijau Putih) selaku Direktur Utama Jalin menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong pengembangan program serta solusi sistem pembayaran nasional berbasis riset, yang didukung oleh rekomendasi kebijakan yang implementatif pada Kamis (06/08) di Jakarta.

  • Jalin dan BACenter berkolaborasi untuk mengembangkan solusi sistem pembayaran nasional berbasis riset serta rekomendasi kebijakan yang implementatif.
  • Sinergi ini dilakukan di tengah meningkatnya transaksi pembayaran digital di Indonesia.
  • Kolaborasi menggabungkan kapabilitas infrastruktur, teknologi, riset, serta analisis kebijakan untuk menghasilkan solusi yang dapat diuji, diterapkan, dan memberikan dampak terukur bagi pemerintah.

Jakarta, 6 Agustus 2026 – PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), bagian dari ekosistem Danantara Indonesia dan Yayasan Bina Astacita Center (BACenter) menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong pengembangan program dan solusi sistem pembayaran nasional berbasis riset serta didukung rekomendasi kebijakan yang implementatif.

Kerja sama ini menggabungkan kapabilitas Jalin dalam membangun dan mengelola infrastruktur sistem pembayaran nasional dengan kompetensi BACenter dalam riset ekonomi, analisis kebijakan, serta perumusan rekomendasi strategis. Sinergi tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai agenda pemerintah, mulai dari digitalisasi layanan publik, optimalisasi penerimaan negara dan daerah, efisiensi belanja pemerintah, penyaluran bantuan sosial, hingga perluasan inklusi keuangan.

Kolaborasi ini berlangsung di tengah pertumbuhan transaksi pembayaran digital di Indonesia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi melalui internet dan mobile banking, BI-FAST, serta BI-RTGS mencapai 16,07 miliar pada semester I 2026, tumbuh 36,88 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara terpisah, volume transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Pada periode yang sama, transaksi QRIS antarnegara membukukan nilai net inbound sebesar Rp1,52 triliun.

Peningkatan transaksi digital mencerminkan semakin strategisnya peran sistem pembayaran dalam menopang aktivitas ekonomi dan pelayanan publik. Seiring dengan perluasan peran tersebut, pengembangan program dan produk sistem pembayaran tidak cukup hanya mengandalkan teknologi yang andal, tetapi juga membutuhkan landasan riset dan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, prioritas pemerintah, kesiapan industri, serta dampak ekonomi dan sosial yang ingin dicapai.

Direktur Utama Jalin Ario Tejo Bayu Aji mengatakan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya Jalin untuk memperkuat kontribusi perusahaan dalam mendukung transformasi pelayanan publik dan agenda digitalisasi pemerintah.

“Pengembangan sistem pembayaran pemerintah tidak dapat hanya dimulai dari teknologi atau produk. Kita perlu memahami kebutuhan masyarakat, tujuan kebijakan pemerintah, kesiapan industri, serta dampak ekonomi dan sosial yang ingin dicapai. Karena itu, riset dan kajian kebijakan menjadi fondasi penting agar setiap solusi yang dikembangkan benar-benar tepat sasaran dan dapat diimplementasikan,” kata Ario.

Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan semangat transformasi dan sinergi dalam ekosistem Danantara Indonesia untuk memperkuat kontribusi badan usaha milik negara terhadap pembangunan nasional. Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, Jalin terus memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur digital yang mendukung integrasi layanan, efisiensi proses bisnis, serta penciptaan nilai bagi negara.

Burhanuddin Abdullah menyatakan bahwa luasnya penggunaan sistem pembayaran oleh berbagai lapisan masyarakat menjadikan sistem pembayaran sebagai bagian dari hajat hidup orang banyak, sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (2) UUD 1945. Dengan demikian, penguasaan infrastruktur sistem pembayaran oleh negara merupakan keniscayaan. Kebijakan dan layanan sistem pembayaran perlu dirancang berdasarkan data, bukti empiris, serta pemahaman yang menyeluruh terhadap kondisi ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

“BACenter memiliki kapabilitas dalam riset dan analisis kebijakan, sementara Jalin memiliki pengalaman, teknologi, dan jaringan di dalam sistem pembayaran nasional. Sinergi ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan solusi yang aplikatif untuk mendukung program pemerintah serta memberikan manfaat konkret bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, kombinasi kompetensi kedua institusi membuka peluang agar hasil kajian dapat dikembangkan dan diuji melalui model implementasi maupun proyek percontohan.

“Riset berperan untuk memastikan suatu program tidak hanya baik secara konseptual, tetapi juga relevan, dapat dilaksanakan, dan menghasilkan dampak yang terukur. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghubungkan proses kajian dan perumusan kebijakan dengan pengembangan solusi serta implementasinya,” kata Burhanuddin Abdullah.

Sinergi Jalin dan BACenter menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri dan lembaga kajian untuk mendukung transformasi sistem pembayaran nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program strategis pemerintah sekaligus memperluas manfaat digitalisasi bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia.

Artikel Terbaru