PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) meyakini bahwa ketahanan siber merupakan aspek fundamental dalam mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan. Di era yang saat ini semakin bersinggungan dengan aktivitas digital, potensi ancaman siber semakin nyata dalam menyerang ketahanan operasional-bisnis suatu perusahaan.

Menanggapi fenomena tersebut, Splunk sebagai penyedia platform enterprise terkemuka yang memiliki perhatian pada aspek cybersecurity,  menyelenggarakan Splunk Experience Day 2026, forum yang mempertemukan praktisi IT Ops dan Security Ops untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik pada aspek ketahanan siber.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (2/7) di St. Regis Jakarta, Jalin dipercaya sebagai salah satu narasumber yang menghadirkan Aries Fajar Kurnia – SVP Infrastructure & Security Management dalam forum diskusi bertajuk “Sharing of Customer Security Journey”.

Di awal paparannya, Aries menjelaskan bahwa fenomena Social engineering kini menyebabkan 74,7% total kerugian kejahatan siber di Web3 pada kuartal 1/2026, mengacu pada hasil riset yang dilakukan Tiger Research. Pelaku beraksi tanpa perlu menembus sistem, mereka memanipulasi pengguna agar menyerahkan OTP dan akses secara sukarela. “Karena itu kami berinvestasi di lapisan transaksi, bukan hanya perimeter — misalnya Jalin Verified, teknologi 3D Secure standar EMVCo. Anda tidak bisa mem-patch manusia yang tertipu; yang bisa Anda bangun adalah lapisan verifikasi yang membuat penipuan itu gagal,” papar Aries.

Dirinya juga menyampaikan bahwa di tengah pesatnya adopsi Kecerdesan Buatan (Artificial Intellegence/AI), beragam ancaman kejahatan siber juga turut berevolusi dengan memanfaatkan AI itu sendiri. “AI saat ini kerap digunakan dalam mempersenjatai pelaku kejahatan siber. Serangan yang dulu butuh berhari-hari kini selesai dalam hitungan menit atau detik, ditambah cybercrime-as-a-service yang membuat siapa pun tanpa keahlian teknis bisa menyerang,” ungkap Aries.

Menurutnya, langkah proaktif diperlukan untuk mencegah potensi serangan di ekosistem pertahanan siber perusahaan. “Yang kami lakukan adalah, mengambil inisiatif melalui aktivitas monitoring, analisa, serta deteksi terhadap aktivitas mencurigakan pada sistem dan jaringan perusahaan guna mencegah potensi serangan siber. Dengan memanfaatkan otomasi AI, kami menilai upaya tersebut lebih efektif untuk melawan potensi kejahatan yang saat ini banyak menggunakan AI juga,” papar Aries. 

Hingga saat ini, Jalin telah dipercaya oleh lebih dari 110 mitra yang mencakup berbagai bank dan fintech. Menjadi bukti nyata keandalan Jalin di industri keuangan yang sangat mengutamakan keamanan operasional. “Kami mengelola aspek interkoneksi lebih dari 110 bank dan fintech. Artinya, jika terjadi serangan terhadap interkoneksi sistem, otomatis menjadi serangan seluruh ekosistem yang kami kelola. Kami memahami celah di satu mitra atau vendor bisa menjadi risiko sistemik. Oleh karenanya, kami memastikan interkoneksi sistem yang tangguh tanpa ada celah sedikitpun,” tegas Aries.

Bagi Jalin, investasi dan inovasi pada sistem keamanan siber bukan hanya sekadar tentang kecanggihan teknologi, melainkan bentuk komitmen nyata Jalin untuk memastikan keamanan operasional mitranya dalam menyuguhi layanan transaksi yang terlindungi.

Artikel Terbaru