Saat ini, bank-bank di Indonesia tengah mengimbau para nasabah untuk mengganti kartu ATM berbasis magnetic stripe yang digunakan menjadi kartu ATM berbasis chip. Langkah tersebut adalah tindak lanjut dari surat edaran yang dikeluarkan Bank Indonesia terkait penggantian kartu ATM. Jika tidak dilakukan, nasabah tidak akan bisa bertransaksi karena kartu ATM berbasis magnetic stripe akan diblokir penggunaannya per 21 Desember 2021 mendatang.

Pemblokiran ini sesuai dengan Surat Edaran BI Nomor 17/52/DKSP tentang Implementasi Standar Nasional Teknologi Chip dan Penggunaan Personal Identification Number pada Kartu ATM dan/ atau Kartu Debit yang diterbitkan di Indonesia. Kartu ATM berbasis chip sendiri sudah banyak digunakan oleh sistem perbankan di berbagai negara dan menjadi standar global.

Salah satu tujuan penggantian kartu ATM menjadi berbasis chip ini adalah untuk meningkatkan keamanan. Bank Indonesia sendiri telah menetapkan NSICCS sebagai standar nasional teknologi chip pada kartu ATM/ Debit yang disusun dengan mengacu pada EMV dan global platform. NSICCS merupakan singkatan dari National Standard for Indonesian Chip Card Specification.

Lantas, apa saja keunggulan kartu ATM/Debit berbasis chip ini? Simak penjelasan berikut ini.

 

1. Bertransaksi Menjadi Lebih Aman

 

Salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh kartu ATM berbasis chip adalah keamanan. Hal ini berkat teknologi chip yang tertanam di dalam kartu yang dapat menyimpan Personal Identification Number (PIN) dan hanya bisa diproses apabila PIN dimasukkan pada mesin ATM atau EDC yang benar.

 

2. Sulit Untuk Digandakan

 

Kartu ATM berbasis chip juga sulit untuk digandakan karena data yang tersimpan di dalam chip hanya bisa diverifikasi keasliannya dengan metode offline dan online CAM (Card Authentication Method) yang lebih aman. Sedangkan data pada kartu ATM berbasis magnetic stripe mudah digandakan karena tersimpan pada pita magnetik yang tidak memiliki proteksi PIN.

 

3. Memiliki Kapasitas Penyimpanan Data yang Lebih Besar

 

Kartu ATM berbasis chip juga memiliki kapasitas penyimpanan data yang lebih besar bila dibandingkan dengan kartu ATM berbasis magnetic stripe. Hal tersebut tidak lepas dari teknologi chip yang memiliki CPU, memory, sistem operasi, aplikasi, dan fungsi kriptografi di dalamnya sehingga akan mempengaruhi kecepatan transaksi.

 

4. Dapat   dengan Nominal yang Lebih Besar

 

Nominal transaksi yang bisa dilakukan oleh nasabah pemilik kartu ATM berbasis chip bisa lebih tinggi dibandingkan dengan nasabah pemilik kartu ATM berbasis magnetic stripe. Bank Indonesia sendiri telah menaikkan batas tarik tunai lewat mesin ATM bagi para pemilik kartu berbasis chip, dari maksimal Rp10 juta per hari menjadi Rp15 juta per hari. Sedangkan untuk transfer antarbank naik menjadi Rp50 juta per hari dari maksimal Rp25 juta per hari. Limit ini disesuaikan juga dengan jenis kartu dan kebijakan dari bank penerbit kartu.

 

5. Fisik Kartu yang Kuat

 

Jika dibandingkan dengan kartu ATM berbasis magnetic stripe, fisik kartu berbasis chip jauh lebih kuat. Hal tersebut tidak lepas dari teknologi chip yang memiliki CPU dan memory yang tertanam dalam kartu dan perlu perlindungan yang lebih kuat.

 

Tetap Waspada Saat Bertransaksi

 

Tujuan utama dari mengganti kartu ATM berbasis chip adalah untuk meningkatkan keamanan saat bertransaksi. Namun, modus kejahatan seseorang untuk memperkaya diri juga akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi itu sendiri.

Contohnya, modus penipuan terbaru yang meminta nasabah untuk melakukan penggantian kartu lewat sambungan telepon atau via chat dengan mengatasnamakan sebuah bank tertentu. Oleh karena itu, penting menjadi seorang nasabah yang cerdas dan waspada terhadap kejahatan yang bisa saja terjadi.

Langkah ini bisa dimulai dari membiasakan diri mengganti PIN secara berkala, membiasakan diri untuk melakukan transaksi di tempat yang ramai, dan selalu mengecek mutasi secara berkala agar bisa segera mengetahui bila ada transaksi mencurigakan.