Konektivitas kini menjadi kata kunci dalam perkembangan sistem pembayaran digital. Tidak hanya menghubungkan pengguna dan merchant di dalam negeri, tetapi juga menjembatani transaksi lintas negara agar semakin mudah, efisien, dan relevan dengan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

Dalam konteks tersebut, perluasan QRIS Antarnegara (Cross-Border) ke Korea Selatan dan Tiongkok pada April 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat integrasi sistem pembayaran Indonesia ke tingkat global. Inisiatif ini sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia untuk bertransaksi di luar negeri menggunakan aplikasi pembayaran domestik, tanpa perlu bergantung pada konversi valuta asing secara konvensional.

QRIS dan Perannya dalam Transformasi Pembayaran Digital

Sejak diperkenalkan, QRIS telah berkembang menjadi salah satu fondasi utama dalam transformasi pembayaran digital nasional. Menurut data Bank Indonesia (BI), hingga Februari 2026, jumlah penggunanya telah mencapai 60,77 juta, mencerminkan tingkat adopsi yang semakin luas di berbagai lapisan masyarakat.

Tidak hanya di dalam negeri, pemanfaatan QRIS antarnegara juga menunjukkan tren yang positif. Sepanjang tahun 2025, frekuensi transaksi wisatawan asing di Indonesia (inbound) tercatat mencapai 5,89 juta transaksi, jauh lebih tinggi dibandingkan transaksi masyarakat Indonesia di luar negeri (outbound) yang mencapai 1,68 juta transaksi.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi domestik, khususnya dari sektor pariwisata dan konsumsi.

Ekspansi QRIS ke Pasar Global

Langkah perluasan QRIS cross-border terus berlanjut pada tahun 2026. BI bersama Bank of Korea resmi meluncurkan konektivitas pembayaran QR antarnegara Indonesia–Korea Selatan, yang memungkinkan masyarakat Indonesia bertransaksi di Korea Selatan menggunakan QRIS secara langsung melalui aplikasi domestik.

Selanjutnya, pada 30 April 2026, BI turut meluncurkan QRIS cross-border untuk Tiongkok, memperluas jangkauan konektivitas ke salah satu mitra ekonomi terbesar Indonesia.

Perluasan ini melengkapi implementasi QRIS lintas negara yang sebelumnya telah berjalan di kawasan ASEAN dan Jepang, sekaligus menjadi bagian dari target pengembangan pada kuartal awal 2026.

Mendorong Efisiensi Transaksi dan Potensi Ekonomi

Integrasi sistem pembayaran lintas negara melalui QRIS membuka peluang yang signifikan dalam mendorong efisiensi transaksi. Penggunaan QRIS memungkinkan transaksi dilakukan langsung dalam mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT), sehingga dapat memberikan efisiensi biaya konversi dan meningkatkan kenyamanan pengguna.

Potensi ini semakin besar dalam konteks hubungan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok, di mana nilai transaksi LCT antara kedua negara dilaporkan telah mencapai sekitar USD 18 miliar.

Ke depan, BI menargetkan perluasan QRIS cross-border ke hingga 8 negara mitra, termasuk penguatan kerja sama dengan Singapura, Thailand, Malaysia, dan Jepang, serta potensi pengembangan ke India. Langkah ini menjadi bagian dari upaya kolektif industri sistem pembayaran dalam membangun ekosistem yang semakin efisien, inklusif, dan terhubung secara global.

Sejalan dengan itu, penguatan QRIS juga terus diarahkan pada peningkatan skala pemanfaatan di dalam negeri. BI menargetkan 60 juta pengguna, 45 juta merchant, dan 17 miliar volume transaksi melalui QRIS, sebagai bagian dari penguatan fondasi ekosistem pembayaran digital nasional.

Memperkuat Interkoneksi Ekosistem Pembayaran

Di balik perluasan konektivitas lintas negara, terdapat kebutuhan akan infrastruktur sistem pembayaran yang mampu mengintegrasikan berbagai layanan secara andal.

Sebagai Penyelenggara Infrastruktur Sistem Pembayaran (PIP) nasional, Jalin berperan dalam memperkuat interkoneksi dan interoperabilitas ekosistem pembayaran digital Indonesia. Didukung oleh infrastruktur yang aman, andal, dan tepercaya, Jalin mendorong integrasi berbagai layanan pembayaran yang selaras dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI), sehingga dapat beroperasi secara lebih seamless dan aman—baik dalam skala domestik maupun dalam mendukung konektivitas lintas negara.

Dalam konteks pengembangan QRIS, peran ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun fondasi konektivitas ekonomi digital regional, di mana sistem pembayaran tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai simbol kedaulatan sebuah negara.

Tips Aman Menggunakan QRIS di Luar Negeri

Seiring dengan semakin luasnya penggunaan QRIS antarnegara, masyarakat juga perlu tetap memperhatikan aspek keamanan saat bertransaksi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pastikan melakukan scan dari merchant resmi dan tepercaya
  • Periksa kembali nominal transaksi dan mata uang sebelum melakukan pembayaran
  • Gunakan aplikasi pembayaran resmi
  • Jangan pernah membagikan kode PIN atau data pribadi

Perluasan QRIS cross-border ke Korea Selatan dan Tiongkok menjadi langkah strategis dalam menghadirkan pengalaman transaksi yang semakin praktis bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Ke depan, Indonesia menargetkan diri sebagai salah satu pusat (hub) pembayaran digital di kawasan Asia, seiring dengan upaya memperluas konektivitas dan menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih efisien, inklusif, dan terintegrasi.

Dengan konektivitas yang semakin luas, masyarakat kini dapat bertransaksi di berbagai negara dengan lebih mudah dan nyaman—tentu dengan tetap mengedepankan kewaspadaan dalam setiap transaksi.


Artikel Terbaru