Kebanyakan dari Anda menggunakan active income untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak sedikit pula penghasilan yang dapat ditabung dari hasil pendapatan aktifnya ke dalam investasi. Active Income memiliki kelebihan salah satunya kepastian waktu dalam mendapatkan penghasilan. Misalnya, seseorang yang bekerja pada perusahaan A, tentunya dia sudah mendapatkan gambaran berapa besaran gajinya dan kapan akan mendapatkannya.
Namun di sisi lain, hal ini juga menjadi kelemahan dari active income. Ketika perusahaan menghadapi krisis keuangan, misalnya akibat dampak dari terjadinya pandemi seperti kondisi saat ini, maka kemungkinan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan menjadi gelombang pemutus active income.
Passive income atau penghasilan pasif bisa menjadi alternatif untuk membantu cashflow Anda. Passive income menjadi hal yang menggiurkan, karena Anda mendapatkan penghasilan yang masuk ke rekening Anda, bahkan saat Anda mengejar pekerjaan utama Anda. Passive income memberi Anda keamanan ekstra terutama ketika terjadi keadaan tidak terduga, seperti inflasi dan pandemi.
Penghasilan pasif merupakan penghasilan yang diperoleh seseorang dengan aktivitas yang sangat minim. Passive income juga kerap disebut sebagai penghasilan sampingan yang dapat diperoleh dari sewa properti, kemitraan terbatas, atau perusahaan lain di mana seseorang tidak terlibat secara aktif. Seperti halnya active income, passive income juga dikenakan pajak.
Secara umum, penghasilan atau pendapatan dibagi dalam tiga kategori yaitu pendapatan aktif, passive income, dan portofolio pendapatan. Ada juga yang mengartikan passive income sebagai silent investor.