Mendorong Transformasi Ekonomi Digital Indonesia Melalui Kolaborasi dan Inovasi Teknologi

Ekonomi digital Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade terakhir. Kondisi tersebut tidak lepas dari kecepatan masyarakat Indonesia dalam mengadopsi inovasi teknologi yang berhasil mengubah perilaku dan pola konsumsi mereka. Pada akhirnya, fungsi-fungsi konvensional di tanah air pun terdisrupsi dan perlu bertransformasi agar tetap relevan dengan perubahan. Oleh karena itu, perubahan ini perlu dirangkul dengan baik agar dapat menjadi penyangga perekonomian digital di tanah air. 

Dalam laporan Temasek, Google, dan Bain & Company, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada 2019 adalah yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai mencapai 40 miliar USD (sekitar Rp566,28 triliun). Satu tahun setelah itu, laporan berikutnya memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia akan mencapai 44 miliar USD (sekitar Rp638 triliun) dan dapat tumbuh hingga 124 miliar USD (sekitar Rp1.798 triliun) pada 2025 mendatang. Nilai tersebut jauh meninggalkan negara Asia Tenggara lain yang hanya bisa mencapai 22-53 miliar USD untuk kurun waktu yang sama. 

Salah satu faktor pendorongnya adalah jumlah pengguna internet yang terus meningkat di Indonesia. Menurut laporan APJII, pengguna internet di Indonesia pada Q2 2020 sudah mencapai 73,7 persen dari populasi Indonesia. Jumlah tersebut setara dengan 196,7 juta pengguna internet berdasarkan populasi Indonesia yang mencapai 266,9 juta menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). 

Selain itu, Indonesia juga sedang menikmati kondisi bonus demografi dengan jumlah penduduk yang didominasi oleh generasi usia produktif (15-64 tahun). Hasil Sensus Penduduk 2020 dari BPS mencatat bahwa mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah Gen Z dan Milenial. Proporsinya sekitar 27,94 persen untuk Gen Z dan sekitar 25,87 persen untuk Milenial. 

Kondisi tersebut membuat Indonesia dapat mengadopsi tren digital dengan cepat sekaligus membuka banyak peluang baru. Hal ini terlihat dari kemunculan berbagai platform digital di tanah air. Contohnya, layanan e-commerce dan logistik untuk memfasilitasi aktivitas jual-beli, fintech untuk memfasilitasi pembayaran digital, serta ridehailing service untuk memfasilitasi transportasi dalam kota.

Ekonomi Digital Indonesia di Awal Pandemi

Perkembangan ekonomi Indonesia sedang bergerak ke arah yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pergerakan tersebut sempat terdisrupsi oleh penyebaran virus COVID-19 yang pertama kali muncul di Tiongkok pada Desember 2019. 

Di Indonesia, siklus kasus COVID-19 diumumkan pertama kali pada awal Maret 2020 dan menyebar luas dalam waktu singkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi  kesehatan dan kemanusiaan saja, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi.

Menurut data Bank Indonesia, perekonomian Indonesia sempat mendapat tekanan dan terkontraksi hingga -5,32 persen pada triwulan pertama 2020. Sumber tekanan berasal dari penurunan ekspor yang sejalan dengan pelemahan ekonomi global dan gangguan rantai pasokan dunia. Selain itu, tekanan juga dipengaruhi oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi mobilitas masyarakat Indonesia.

Meski demikian, sejalan dengan beragam kebijakan yang ditempuh pemerintah, perbaikan ekonomi Indonesia kembali terlihat pada periode berikutnya. Pada triwulan pertama 2021, kontraksi perekonomian hanya mencapai -0,74 persen, lebih rendah dari triwulan keempat 2020 yang mencapai -2,19 persen. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2021 tetap sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia pada April 2021, yakni di kisaran 4,1 – 5,1 persen.

Kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait adalah langkah cepat yang diambil sebagai upaya untuk memitigasi risiko pandemi Covid-19 terhadap perekonomian. Melalui UU No. 2 Tahun 2020, pemerintah diberikan kewenangan untuk melakukan kebijakan terkait pelebaran defisit dan pembiayaan APBN 2020.

Di sistem pembayaran, Bank Indonesia berupaya untuk mempercepat digitalisasi sistem pembayaran berdasarkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Langkah ini diambil untuk mendukung aktivitas keuangan dan ekonomi digital Indonesia, mendorong pemulihan ekonomi, serta mempercepat inklusi ekonomi dan keuangan.

Inisiatif transformasi digital lainnya juga terus didorong oleh Bank Indonesia. Contohnya, pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), digitalisasi layanan perbankan, dan mendukung inisiatif lahirnya bank digital.

Selain itu, perluasan akses UMKM dan masyarakat kepada layanan ekonomi dan keuangan digital juga terus dilakukan. Langkah yang ditempuh yaitu melalui dukungan kolaborasi antara bank dan fintech, serta program elektronifikasi pembayaran di berbagai sektor.

Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025

Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 adalah panduan arah kebijakan Bank Indonesia pada bidang sistem pembayaran di era digital dalam rangka mendukung pembentukan ekosistem ekonomi digital Indonesia yang kondusif. Perumusan dokumennya dilatarbelakangi oleh perubahan perilaku ekonomi di era digital yang menuntut hadirnya layanan ekonomi dan keuangan yang serba cepat, murah, dan aman. 

Relevansi BSPI 2025 untuk percepatan digitalisasi sistem pembayaran juga semakin kuat di tengah pandemi Covid-19 karena preferensi masyarakat dan akseptasi pedagang terhadap layanan pembayaran digital juga ikut meningkat. Bank Indonesia mencatat, nilai transaksi uang elektronik sepanjang Januari-Oktober 2020 mencapai Rp 163,43 triliun.

Di sisi perbankan, transaksi pembayaran menggunakan ATM, Kartu Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik (UE) juga tumbuh sebesar 2,06 persen (YoY) pada Desember 2020. Demikian juga nilai transaksi digital banking yang mencapai Rp2.774,5 triliun atau tumbuh 13,91 persen (YoY) pada Desember 2020. Volume digital banking juga meningkat dan mencapai 513,7 juta transaksi atau tumbuh 41,53 persen (yoy) pada Desember 2020.

Sebagai panduan arah kebijakan Bank Indonesia di bidang sistem pembayaran pada era digital, BSPI 2025 memiliki lima visi untuk mendorong integrasi ekonomi keuangan digital nasional yang diimplementasikan melalui lima inisiatif. Kelima inisiatif tersebut yaitu Open Banking, Sistem Pembayaran Ritel, Infrastruktur Pasar Keuangan, Data, serta Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan.

Kehadiran BSPI 2025 juga diharapkan dapat menjawab tiga tantangan revolusi digital di era Industri 4.0 untuk mendukung integrasi ekonomi keuangan digital nasional. Ketiga tantangan tersebut yaitu kemunculan shadow banking dari pemain fintech, potensi peningkatan serangan siber, dan penyalahgunaan data.

Secara prinsip, kehadiran BSPI 2025 di tengah tren digitalisasi yang terus tumbuh diharapkan dapat menjamin terjadinya interkoneksi antara sektor finansial seperti otoritas, kementerian, bank, fintech, dengan sektor riil seperti UMKM, pasar, pemda, transportasi, hingga pariwisata.  

Industri Sistem Pembayaran Mendukung Perwujudan Transformasi Ekonomi Digital Indonesia

Mewujudkan transformasi ekonomi digital Indonesia bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam semalam. Pada prinsipnya, seluruh pelaku industri finansial perlu bekerja sama dan memainkan perannya masing-masing dengan baik agar tercipta ekosistem keuangan yang sehat.

Bank Indonesia berperan sebagai regulator dalam menyusun kebijakan. OJK berperan mengatur dan mengawasi kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB). Sementara bank memberikan akses transaksi finansial yang sah.

Di samping itu, masih ada peran Penyelenggara Infrastruktur Sistem Pembayaran (PIP) yang menyelenggarakan infrastruktur sebagai sarana yang dapat digunakan untuk melakukan pemindahan dana bagi kepentingan anggotanya. Salah satu contohnya adalah Lembaga Switching yang menjalankan kegiatan switching.

Switching dalam industri finansial adalah sistem elektronik yang bisa digunakan untuk menghubungkan jalur komunikasi antar bank. Salah satu perusahaan yang menjalankan kegiatan ini di Indonesia adalah PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin).

Seebagai pelaku industri, Jalin juga turut berperan aktif dalam mendorong kemajuan industri finansial yang berkelanjutan melalui produk dan layanan yang dimiliki saat ini seperti, Switching dan AMT Managed Service. Di samping itu, Jalin juga terus berkolaborasi dengan berbagai rekan profesional untuk meningkatkan kualitas layanan serta mengembangkan inovasi digital dan physical

Dengan begitu, masyarakat dapat terhubung dengan ekosistem finansial dan ekosistem non finansial dengan lebih aman dan nyaman. Sehingga, pada akhirnya akan tercipta sistem pembayaran yang aman, terintegrasi, interkoneksi, dan interoperabilitas yang efisien.

Membangun Masa Depan Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia

Masa depan ekonomi dan keuangan digital yang sehat adalah ketika penyediaan layanan keuangan seperti bank, lembaga non-bank, lembaga-lembaga penunjang infrastruktur keuangan, dan teknologi bisa saling mendukung. Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh melupakan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan tidak akan terselenggara baik tanpa sistem pembayaran yang kokoh dan andal.

Kini, di era digital segalanya menjadi lebih mudah, termasuk dalam aktivitas keuangan. Industri finansial Indonesia pun merasakan arus digitalisasi yang tidak terbendung yang pada akhirnya mendisrupsi sektor yang katanya sulit digoyahkan ini. 

Akan tetapi, segala kemudahan yang datang tersebut bukan tanpa resiko. Ada faktor seperti keamanan data konsumen yang perlu dijaga, potensi keamanan siber baru yang bisa diretas, fraud, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, penting bagi setiap pemain untuk saling berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan dapat menggerakan roda ekonomi bangsa.

Infrastruktur sistem pembayaran yang dapat menunjang ekosistem finansial dan non finansial juga punya peranan penting dalam memastikan pelaku industri dapat memberikan pengalaman transaksi terbaik untuk masyarakat. Hal ini didukung dengan roadmap regulator yang dapat mengakselerasi inovasi digital sehingga terwujud ekonomi dan keuangan digital Indonesia yang inklusif.

Inovasi digital sendiri pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi berkat peningkatan kapabilitas pemain dan pengguna layanan finansial dalam mengakses dan memanfaatkan informasi, serta memungkinkan lahirnya model bisnis, industri, dan sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. Semua manfaat ini menjadi kunci bagi terwujudnya inklusi ekonomi keuangan digital di Indonesia.

Ref: 

https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Tinjauan-Kebijakan-Moneter-Mei-2021.aspx

https://www.alphajwc.com/id/pertumbuhan-ekonomi-digital-indonesia-menjadi-yang-paling-pesat-di-asean-2/

https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/608284de979fb/sri-mulyani-potensi-ekonomi-digital-indonesia-bisa-rp-1798-triliun

https://blog.apjii.or.id/index.php/2020/11/09/siaran-pers-pengguna-internet-indonesia-hampir-tembus-200-juta-di-2019-q2-2020/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/01/22/sensus-penduduk-2020-penduduk-indonesia-didominasi-gen-z-dan-milenial

https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/LPI_2020.aspx

https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_233321.aspx

https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/blueprint-2025/default.aspx

https://keuangan.kontan.co.id/news/mulai-dicermati-ojk-sebenarnya-apa-itu-shadow-banking 

https://kumparan.com/kumparanbisnis/fintech-geser-peran-perbankan-pangsa-pasar-uang-elektronik-dikuasai-ovo-cs-1uYXmorVRp3/full 

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/01/27/nilai-transaksi-uang-elektronik-indonesia-terus-tumbuh 

https://keuangan.kontan.co.id/news/fintech-gencar-menyalurkan-pinjaman-melalui-e-commerce 

https://keuangan.kontan.co.id/news/transaksi-e-commerce-moncer-fintech-berlomba-sebagai-penyedia-pembayaran?page=2