Minat untuk belajar investasi menjadi salah satu topik pencarian paling populer di Indonesia sejak pandemi berlangsung satu tahun silam. Keadaan yang tidak menentu telah mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih proaktif dalam mencari dan mengedukasi diri mengenai layanan keuangan serta pilihan investasi yang aman. Hal ini dapat dilihat dari laporan Year in Search 2020 dari Google.

Menurut Google, terdapat pertumbuhan minat yang signifikan untuk mempelajari dan mulai menggunakan solusi perbankan online. Setidaknya, ada lonjakan pencarian mencapai 140 persen untuk penelusuran terkait buka rekening online, 70 persen untuk penelusuran tabungan online, dan 20 persen untuk topik cara daftar mobile banking.

Sementara itu, informasi terkait cara mengelola keuangan juga ikut mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan penelusuran topik dana darurat dan tips menabung yang naik mencapai 140 persen.

Di sisi lain, topik untuk mencari opsi investasi yang aman dan terjamin juga meningkat. Penelusuran untuk kata kunci bunga deposito naik 10 persen, kata kunci saham naik 25 persen, kata kunci beli emas online naik 85 persen, kata kunci IHSG naik 90 persen, dan yang tertinggi adalah kata kunci reksa dana yang melonjak hingga 210 persen.

Di artikel ini, kita akan membahas tentang pentingnya investasi, manfaat investasi sejak dini, hingga ke pilihan investasi yang bisa dipertimbangkan di era digital ini.

Penasaran? Baca dan simak sampai habis ya!

 

Mengapa Investasi Itu Penting?

 

Seperti halnya teknologi yang mendisrupsi banyak sektor industri, pandemi COVID-19 juga telah berhasil mendisrupsi pola pikir masyarakat Indonesia dalam perencanaan finansial. Kini, banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya ketahanan finansial untuk menghadapi kejadian tidak terduga di masa depan agar berbagai peristiwa penting dalam hidup tidak terlewati.

Dalam menjalani kehidupan, seseorang pasti memiliki tujuan hidup yang ingin dicapai dan akan bertemu banyak peristiwa penting. Contohnya seperti kuliah, menikah, kelahiran anak pertama, anak masuk sekolah, hingga pensiun. Belum lagi kebutuhan lain yang bisa menjadi sebuah target kecil seperti gawai terbaru, liburan ke negara impian, hingga mendapatkan barang koleksi langka untuk memuaskan hobi.

Semua hal tersebut tidak akan bisa dicapai begitu saja tanpa kerja keras dan perencanaan finansial yang baik. Di dalam perencanaan finansial yang baik, tentunya ada strategi investasi yang tepat yang dapat memberikan banyak manfaat. Baik itu bagi diri sendiri, maupun ruang lingkup yang lebih luas seperti keluarga, pertemanan, dan secara tidak langsung kontribusi kepada negara.

Dengan berinvestasi, artinya kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, melatih kedisiplinan diri untuk mencapai tujuan, dan bisa secara tidak langsung membantu menggerakan roda ekonomi negara lewat penanaman modal di sebuah perusahaan. Hal ini akan lebih baik lagi jika kita belajar berinvestasi sejak awal masa kedewasaan dalam hidup kita.

Investasi juga bukan barang baru di Indonesia. Merujuk pada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Pada praktiknya, kegiatan ini sudah terjadi sejak masa kolonial lewat Undang-Undang Agraria 1870 yang menjadi pintu masuk modal asing di sektor perkebunan.

 

Manfaat belajar investasi sejak dini

 

Singkatnya, manfaat dari berinvestasi itu adalah mendapatkan keuntungan yang pada akhirnya bisa digunakan untuk banyak keperluan di kemudian hari. Maka dari itu, belajar investasi sejak dini merupakan hal yang perlu dilakukan oleh generasi muda saat ini. Apalagi di situasi pandemi yang tidak menentu yang menuntut kemampuan untuk mengelola keuangan lebih baik lagi.

Setidaknya, ada tiga manfaat belajar investasi sejak dini yang perlu kita ketahui. Berikut penjelasannya:

 

1. Punya Dana Darurat

 

Generasi muda pada umumnya rentan secara finansial. Hal ini tak lepas dari konsep gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang terkadang masih salah diartikan. Sebagian orang masih memiliki kebiasaan menghabiskan uang demi mendapatkan kepuasan pribadi dibandingkan memperkuat ketahanan finansial.

Contohnya, uang digunakan untuk membeli barang-barang mahal yang belum tentu dibutuhkan, berwisata setiap ada kesempatan, atau mencari hiburan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan tabungan. Menariknya, pandemi COVID-19 mulai menyadarkan orang-orang dengan gaya hidup boros seperti ini dan mengembalikan konsep YOLO ke tempat yang seharusnya.

Belajar dari musibah pandemi, orang-orang, khususnya generasi muda, kini mulai belajar untuk mengelola keuangan agar dapat mempersiapkan ketahanan finansial yang lebih kuat. Salah satu caranya adalah dengan menginvestasikan sebagian uang untuk menjadi dana darurat.

Alokasi dana darurat sendiri dapat digunakan untuk keperluan mendesak di kemudian hari seperti membayar biaya kesehatan yang tidak di-cover asuransi dan BPJS. Bisa juga menjadi penyelamat jika ada salah satu anggota keluarga mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mendadak. Pada umumnya, instrumen investasi yang dipilih untuk menjadi dana darurat adalah yang minim risiko. Beberapa di antaranya yaitu deposito, reksa dana, dan logam mulia.

 

2. Merdeka Finansial

 

Kemerdekaan finansial atau financial freedom dipopulerkan oleh pakar keuangan asal Amerika, Robert T Kiyosaki. Menurut Kiyosaki, kebebasan finansial bukan tentang berapa banyak uang yang dimiliki oleh seseorang. Sebaliknya, ini tentang perubahan pola pikir.

Kiyosaki menyampaikan bahwa ayahnya berkata, “Ada dua jenis masalah uang. Tidak cukup uang, dan terlalu banyak uang. Jenis masalah uang apa yang Anda inginkan?”

Hematnya, merdeka finansial adalah fase ketika kita merasa cukup sesuai dengan kemampuan keuangan kita. Kondisi ini bisa membuat kita merasa bebas untuk dapat menjadi diri kita sendiri dan melakukan hal-hal yang kita sukai tanpa mengkhawatirkan kondisi keuangan kita lagi.

Dalam kondisi normal, contoh dari seseorang yang sudah berada di fase merdeka finansial bisa dilihat dari gaya hidupnya. Misalnya, bisa menyiapkan dana liburan tanpa kesulitan bayar tagihan setelah pulang dan tiba di rumah. Punya dana untuk me-time atau memuaskan hobi tanpa perlu pusing dengan tagihan belanjanya. Sementara bagi pecinta kuliner, mereka bisa makan apa saja tanpa perlu memikirkan harga makanan.

Sedangkan pada situasi pandemi yang tidak menentu seperti sekarang, seseorang yang berada di fase merdeka finansial pasti tidak akan terlihat panik atau khawatir secara berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari pola pikir yang matang, keadaan finansialnya yang mencukupi dan dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Singkatnya, seseorang dengan kondisi merdeka finansial sudah memiliki dana darurat, dana kesehatan, dana pendidikan, sampai dana pensiun. Dana tersebut bisa digunakan untuk menghadapi situasi tidak menentu di masa depan seperti pandemi Covid-19.

Banyak yang menganggap bahwa kondisi merdeka secara finansial ini hanya bisa dicapai dengan menjadi kaya raya atau memiliki gaji atau pendapatan bulanan yang besar. Padahal, dengan pengelolaan gaji atau pendapatan yang tepat kita tetap bisa mewujudkan kondisi merdeka finansial.

Kunci untuk meraihnya ada pada kemauan kita dalam mengubah pola pikir terhadap gaya hidup dan diikuti dengan perencanaan keuangan yang baik. Hal ini dapat membantu kita dalam mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi pendapatan. Di samping itu juga penting untuk memiliki goals, konsistensi dalam menyisihkan dana, dan memulai investasi lebih awal.

Singkatnya, merdeka finansial bisa diraih jika pola pikir terhadap gaya hidup kita sudah diubah, memiliki strategi keuangan, dan mengembangkan kebiasaan baik dalam mengelola keuangan. Di sisi lain juga tidak memiliki hutang yang konsumtif seperti cicilan gawai terbaru hanya untuk memuaskan gaya hidup.

Jika seorang investor bisa mengelola aset investasinya dengan baik, bukan tidak mungkin dia meraih kondisi merdeka secara finansial. Dia bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari dari keuntungan investasinya tanpa khawatir.

Satu hal yang perlu diingat, tujuan utama dari investasi adalah meminimalisir risiko berkurangnya nilai uang dari inflasi. Tujuan kedua adalah memperoleh keuntungan untuk mencapai life goals yang ditentukan.

Kondisi merdeka finansial tidak harus selalu hidup kaya raya berkelimpahan harta, tetapi bisa menjadi diri sendiri dan melakukan apapun yang kita mau tanpa pusing bagaimana kondisi keuangan kita.

Meski terdengar seperti mimpi, tetapi hal ini memang bisa diwujudkan. Syaratnya, harus terus belajar untuk bisa mengelola keuangan yang baik serta tegas dan disiplin pada diri sendiri dalam mengalokasikan dana untuk investasi.

 

3. Mempersiapkan Masa Depan yang Lebih Baik

 

Belajar berinvestasi sendiri bukannya tanpa tantangan. Kesalahan umum yang sering ditemukan pada investor pemula adalah ketidakkonsistenan dalam mengalokasikan dana untuk investasi.

Banyak yang berpikir bahwa investasi adalah jalan singkat untuk memperoleh keuntungan berlimpah dan menjadi kaya raya. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Seorang investor harus bisa menentukan tujuan investasinya, baik itu untuk jangka pendek atau jangka panjang.

Penyebab investor pemula tidak konsisten pun bermacam-macam. Pertama, dia tidak memiliki tujuan dan FOMO (fear of missing out) sehingga hanya ikut-ikutan yang sedang tren. Kedua, serakah dan menganggap investasi adalah jalan pintas untuk meraih kekayaan dalam waktu singkat sehingga memiliki ekspektasi yang tinggi bahwa semua investasi menguntungkan. Ketiga, dia tidak mengenali profil risikonya sendiri.

Contoh kasusnya bisa dilihat saat pasar modal mulai menunjukan geliat untuk bangkit setelah dipukul oleh isu pandemi tahun lalu. Pada saat itu, ada banyak investor pemula yang menanamkan modal untuk memperoleh keuntungan.

Akan tetapi, tren tersebut kemudian berbalik dan banyak investor pemula yang merugi dan marah. Mental mereka tidak siap menghadapi kenyataan tersebut.

Fase ini bisa dihindari jika kita sudah belajar investasi sejak dini karena sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan akan risiko dari setiap investasi yang diambil. Di samping mental yang terlatih, kedisiplinan dalam mengalokasikan dana juga lebih terbangun.

Pada akhirnya, ketika mental dan kedisiplinan diri seorang investor sudah terbangun, tujuan akhir dari investasi juga akan bisa diraih. Baik itu untuk membeli rumah, menikah, memiliki kendaraan baru, biaya untuk pendidikan yang lebih tinggi, atau dana pensiun dini.

Masa depan itu penuh dengan ketidakpastian. Pasti ada saja variabel bebas yang menyebabkan terjadinya sebuah peristiwa di luar kendali dan rencana kita. Contohnya seperti pandemi yang disebabkan oleh virus COVID-19 saat ini.

Di samping itu, fisik seseorang akan berubah dan tidak lagi sama ketika dia memasuki usia senja. Kemampuan dan produktivitas untuk bekerja akan jauh berbeda dengan kondisinya di usia produktif. Hal tersebut secara otomatis akan berdampak pada berkurangnya penghasilan.

Pada saat seperti inilah investasi menunjukan peran sebagai jawaban dalam mempersiapkan masa depan yang lebih terjamin. Jika kita sudah belajar investasi sejak dini, beban mengumpulkan uang untuk masa pensiun juga berkurang.

Investasi yang dilakukan sejak dini juga dapat membantu mencegah lahirnya generasi sandwich di keluarga. Mereka adalah generasi yang di saat bersamaan bertanggung jawab menyisihkan penghasilan untuk orang tua dan memenuhi berbagai kebutuhan pribadinya. Di sisi lain, kita juga juga jadi lebih siap kalau-kalau harus pensiun dini.

 

Pilihan investasi di era digital

 

Dulu, akses untuk membeli instrumen investasi masih berbelit-belit dengan syarat dan ketentuan yang rumit serta biaya yang kadang selangit. Hal ini jelas memperlambat literasi dan minat masyarakat terhadap produk-produk finansial yang bermanfaat.

Akan tetapi, keadaan tersebut sudah berubah seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat dan mendisrupsi cara kita memperoleh instrumen investasi. Masyarakat, khususnya generasi muda, saat ini dapat mengakses banyak instrumen investasi dari genggaman tangan dan membelinya dengan harga terjangkau.

Namun, mengenal dan memahami instrumen atau jenis investasi yang tersedia di Indonesia juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, kita bisa menentukan sendiri investasi yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Beberapa instrumen investasi yang dapat diperoleh masyarakat untuk berinvestasi sejak dini berkat kemajuan teknologi saat ini adalah emas, reksa dana, saham, deposito, obligasi, surat berharga negara, sampai penanaman modal melalui pinjaman. Semua instrumen ini bisa diakses dengan mudah setelah melalui proses pendaftaran via online maupun offline dan beberapa di antaranya dapat dibeli dengan harga sangat terjangkau.

Salah satu jalur yang dapat ditempuh investor untuk memperoleh instrumen reksadana yaitu melalui Danareksa Investment Management (DIM). DIM memperoleh izin sebagai Manajer Investasi dan memperjualbelikan instrumen investasi reksadana melalui layanan Danareksa Online yang dapat diakses melalui situs resminya di http://dmia.danareksaonline.com/.

Metode pembayaran yang bisa digunakan pun ada banyak. Mulai dari mobile bankinginternet banking, dompet digital yang bisa diakses lewat smartphone, sampai dengan pembayaran melalui minimarket, mitra rekanan lembaga keuangan terkait atau via mesin ATM seperti ATM LINK yang tersebar di seluruh Indonesia.

ATM LINK adalah layanan yang memfasilitasi para nasabah pemegang kartu ATM dari bank Himbara untuk melakukan transaksi Cek Saldo, Tarik Tunai, Transfer, dan Pembayaran Tagihan, seperti tagihan untuk membeli produk investasi, di seluruh channel ATM yang tergabung dalam jaringan LINK.

 

Investasi Dini Dimulai dengan Strategi

 

Belajar investasi sejak dini itu penting, tetapi bukan tanpa tantangan yang berarti. Dalam perjalanannya, tidak ada investor yang tidak pernah gagal dan mengalami kerugian dari portofolio investasinya.

Hal yang membedakan adalah sikap ketika bertemu dengan kegagalan tersebut. Apakah dia akan merangkulnya, menata mental, dan mendisiplinkan diri untuk menambah pengetahuan atau malah menutup mata dan pergi begitu saja. Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini, hampir semua instrumen investasi bisa diakses dengan mudah dan dibeli dengan harga yang terjangkau. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memulai belajar investasi sejak dini.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum mulai berinvestasi adalah membuat strategi-mempersiapkan rencana dan tujuan investasi sebaik mungkin. Setiap investasi itu pasti memiliki risikonya masing-masing. Ada yang berisiko rendah seperti deposito dan reksa dana, tetapi ada juga yang berisiko tinggi seperti saham dan penanaman modal usaha melalui layanan pinjaman.

Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli produk investasi, jangan lupa untuk mempelajari segala risiko yang ada agar dapat menentukan produk investasi yang sesuai dengan kebutuhan. Belajar dari sahabat atau keluarga yang berpengalaman, membaca buku, mengikuti kelas online dari lembaga terpercaya, atau sekedar menonton video tentang tips investasi di waktu senggang bisa menjadi langkah awal.