Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan tips kepada para nasabah perbankan agar mencegah diri menjadi korban skimming atau penggandaan kartu ATM dengan cara menutupi dengan rapat keypad mesin ATM pada saat memasukan nomor PIN.

 

Skimming merupakan salah satu bentuk kejahatan perbankan yang sering terjadi dan banyak bank milik pemerintah (BUMN) dan swasta pun menjadi korban. Proses skimming meliputi dua tahapan proses, yaitu dengan merekam data menggunakan alat yang telah ditempel sebelumnya di bagian tempat memasukkan kartu ATM serta penggunaan kamera di atas keypad ATM.

 

Maka, masyarakat yang hendak bertransaksi di mesin ATM Link dihimbau untuk selalu menutup rapat dengan menggunakan tangan ketika memasukan nomor PIN pada mesin ATM Link sehingga tidak dapat dimonitor pada saat ada kamera. Jadi, meskipun kartu ATM dapat dengan mudah digandakan, selama nomor PIN ATM tidak diketahui, maka akan sulit bagi para oknum untuk membobol rekening para nasabah.

 

Selain itu, untuk mencegah terjadinya skimming juga dapat dilakukan dengan menggunakan transaksi lewat aplikasi mobile banking. Pergantian kartu ATM chip juga dapat mengurangi resiko skimming.

 

Selain itu, nasabah juga perlu waspada terhadap modus – modus penipuan melalui telepon maupun media sosial oleh pelaku kejahatan. Hubungi pihak yang mengaku perusahaan dan menawarkan hadiah atau update data, dihubungi akun palsu setelah berkomentar di media sosial, serta memperoleh nomor kontak bank penerbit kartu ATM yang palsu dari internet.

 

Nasabah bank juga dihimbau untuk selalu berhati-hati saat berkomunikasi melalui media sosial, salah satunya dengan tidak mengisi formulir tautan yang meminta kerahasiaan data perbankan dan menjaga kerahasiaan data pribadi seperti nomor kartu debit atau kredit, masa berlaku kartu, tanggal lahir, PIN, 6 angka untuk menjalankan transaksi yang diterima melalui SMS (OTP), 3 angka di belakang kartu atau CVV dari pihak manapun termasuk yang mengatasnamakan bank penerbit kartu ATM.