Industri perbankan telah mengalami banyak perubahan berkat pesatnya laju perkembangan teknologi dalam satu dekade terakhir. Salah satu inovasi yang lahir dan sedang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia adalah bank digital.

Namun, apa perbedaannya dengan bank konvensional yang selama ini kita kenal?

 

Bank Digital

 

Bank digital pada dasarnya adalah digitalisasi dari setiap level perbankan, dari ujung depan hingga ujung belakang. Dengan kata lain, bank digital harus dapat memfasilitasi semua tingkat fungsionalitas perbankan di semua platform pemberian layanan.

Dari sisi yang bersentuhan langsung dengan konsumen, aktivitas perbankan harus memiliki semua fungsi yang sama dengan layanan perbankan dan dapat dilihat oleh konsumen. Contohnya, berfungsi seperti kantor pusat, kantor cabang, layanan online, kartu bank, ATM, dan mesin point of sale.

Sementara di belakang layar, aktivitas perbankan yang terjadi di depan harus dapat dilihat bankir melalui server dan panel kontrol admin. Oleh karena itu, bank digital perlu memanfaatkan teknologi untuk mengotomatisasi tugas administratif dan pemrosesan data yang nantinya dapat mengurangi tekanan pada karyawan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan bank digital sebagai Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha terutama melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat atau menggunakan kantor fisik terbatas.

Bank BHI adalah bank yang berdiri serta menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia dan dapat berbentuk sebagai perseroan terbatas, koperasi, perusahaan daerah, atau bentuk lain yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah.

Namun, OJK tidak mendefinisikan bank digital sebagai jenis bank yang baru. Dalam undang-undang perbankan yang berlaku di Indonesia saat ini, kita hanya mengenal dua jenis bank, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

 

Perbedaan dengan bank konvensional

 

Dari sisi layanan yang diberikan, tidak ada perbedaan yang berarti antara bank digital dan bank konvensional. Keduanya sama-sama dapat menawarkan jasa perbankan seperti tabungan, deposito, penarikan dana, transfer, investasi, dan pinjaman.

Letak perbedaannya baru bisa dilihat dari wujudnya. Bank konvensional memiliki wujud fisik berupa kantor pusat dan cabang, sementara bank digital dapat beroperasi hanya dengan sebuah kantor pusat saja dan biasanya tidak memerlukan keberadaan kantor cabang.

Di samping itu, perbedaan lain yang dapat ditemukan biasanya dapat dilihat dari keunggulan yang ditawarkan. Contohnya seperti biaya administrasi yang lebih rendah, biaya transfer yang lebih murah atau bahkan gratis, dan suku bunga yang lebih tinggi. Tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku yang dikeluarkan oleh bank terkait.

 

Transformasi perbankan yang perlu didukung

 

Istilah bank digital yang tengah naik daun sebenarnya tidak mengubah bank secara kelembagaan karena bank tetaplah bank. Bank merupakan sebuah lembaga keuangan yang memberikan jasa untuk menyimpan, menyalurkan, dan memberikan pinjaman kepada masyarakat. Bank digital sendiri dapat hadir melalui dua cara menurut POJK 12/POJK.03/2021.

Pertama, dengan mendirikan bank baru sebagai bank digital. Kedua, dengan mentransformasi bank yang sudah ada menjadi bank digital seperti yang dilakukan oleh BRI Agro dengan mengubah nama menjadi Bank Raya dan secara resmi mengubah model bisnisnya menjadi bank digital.

OJK memang tidak menerbitkan surat izin khusus untuk operasional bank digital. Namun, untuk bertransformasi menjadi sebuah bank digital, bank yang sudah ada perlu memenuhi beberapa persyaratan yang berlaku, di antaranya yaitu:

  • Memiliki model bisnis dengan penggunaan teknologi yang inovatif dan aman dalam melayani kebutuhan nasabah
  • Memiliki kemampuan untuk mengelola model bisnis perbankan digital yang prudent dan berkesinambungan.
  • Memiliki manajemen risiko yang memadai.
  • Memenuhi aspek tata kelola termasuk pemenuhan direksi yang mempunyai kompetensi di bidang teknologi informasi dan kompetensi lain sesuai dengan ketentuan OJK mengenai penilaian kemampuan dan kepatutan bagi pihak utama lembaga jasa keuangan.
  • Menjalankan perlindungan terhadap keamanan data nasabah.
  • Memberikan upaya yang kontributif terhadap pengembangan ekosistem keuangan digital dan inklusi keuangan.

 

Pada akhirnya, kehadiran bank digital di tengah masyarakat Indonesia menjadi sebuah alternatif dalam mengakses sebuah layanan keuangan yang lebih mudah, cepat, dan transparan. Masyarakat hanya memerlukan smartphone dan koneksi internet untuk mengakses layanan perbankan dari genggaman mereka.

Pertumbuhan bank digital di Indonesia juga baru dimulai sehingga kita dapat melihat banyak pelaku industri yang beramai-ramai terjun mendirikan bank digital dengan berbagai cara. Mulai dari akuisisi bank kecil dan menyulapnya menjadi sebuah bank digital sampai mendirikan entitas baru. Hal tersebut tidak lepas dari luasnya ruang gerak yang masih bisa dieksplorasi lagi.

Namun, di sisi lain, bank digital juga punya pekerjaan rumah besar yang perlu diselesaikan dengan baik yaitu keamanan. Ancaman serangan siber di era teknologi seperti saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Meski demikian, kita juga tidak dapat memungkiri bahwa segala keunggulan yang ditawarkan oleh bank digital, tentu masih membutuhkan dukungan untuk mentransformasi layanan perbankan. Kehadirannya memiliki potensi untuk membuat perbankan Indonesia menjadi lebih efisien, adaptif terhadap perkembangan teknologi, memberikan kontribusi yang lebih baik untuk perekonomian nasional, dan memberi manfaat yang lebih luas untuk masyarakat Indonesia.