Pernahkah Anda merasa bahwa kesuksesan yang Anda capai saat ini hanyalah sebuah keberuntungan? Atau mungkin Anda merasa tidak layak untuk mendapatkan posisi tertentu? Beberapa dari Anda mungkin pernah merasa tidak sehebat dan secemerlang apa yang orang lain pikirkan. Kondisi dimana seseorang meragukan kemampuan diri sendiri dan menganggap tidak pantas mendapatkan pencapaian yang telah diraih karena merasa semua hanyalah keberuntungan dikenal sebagai Impostor Syndrome.

Jika Anda pernah merasakan kondisi di atas, Anda tidak sendiri. Natalie Portman, seorang aktris hebat lulusan Harvard pun pernah mengalami kondisi tersebut. Dalam pidatonya di Harvard Commencement Speech, Portman menyebutkan bahwa hari itu sama seperti saat dirinya pertama kali datang ke Harvard sebagai mahasiswa baru di tahun 1999. Ia merasa tidak cukup pintar untuk berada disana dan memiliki beban untuk membuktikan bahwa dirinya bukan hanya seorang aktris yang bodoh.

Menurut artikel yang dipublikasikan dalam International Journal of Behavioral Science, sebanyak 70% penduduk US mengalami kondisi yang sering disebut sebagai Impostor Syndrome pada titik tertentu dalam hidupnya. Dalam artikel lain menyebutkan, sekitar 25% – 30% orang yang berprestasi tinggi mengalami impostor syndrome. Di Indonesia sendiri, data pengidap impostor syndrome masih sulit didapatkan karena kurangnya pemahaman mengenai kondisi ini.

 

Impostor Syndrome di Lingkungan Kerja

Terminologi impostor syndrome pertama kali digunakan oleh psikolog Pauline Rose Clance and Suzanne Imes pada tahun 1978. Tidak ada penyebab pasti impostor syndrome, namun terdapat beberapa faktor yang dapat memicu impostor syndrome di lingkungan kerja, yaitu:

  1. Tantangan atau kesempatan baru

Pekerjaan baru, peran dan tanggung jawab baru, ataupun kenaikan jabatan bisa memicu impostor syndrome. Biasanya hal ini terjadi ketika kita dihadapkan dengan ekspektasi tinggi dan menimbulkan perasaan takut tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut.

  1. Diskriminasi

Diskriminasi di lingkungan kerja menimbulkan kompetisi yang tidak sehat dan perasaan harus senantiasa menjadi lebih baik lagi. Diskriminasi juga memunculkan kebutuhan untuk membuktikan kemampuan seseorang lebih baik daripada yang lainnya.

  1. Labeling

Mendapatkan julukan sebagai high performers atau top achiever di lingkungan kerja mengakibatkan seseorang memiliki standar kinerja yang terlalu tinggi. Hal ini akan memunculkan perasaan bahwa dirinya tidak diizinkan untuk melakukan kesalahan atau kebodohan.

 

Bagaimana Impostor Syndrome dapat Memengaruhi Karir Anda?

Mereka yang mengalami impostor syndrome seringkali terjebak di dalam impostor cycle. Siklus ini berawal dari pemikiran bahwa setiap pekerjaan harus diselesaikan dengan sempurna tanpa adanya bantuan dari orang lain. Pemikiran perfeksionisme dan kecemasan terhadap hasil yang buruk tersebut menimbulkan respon seperti menunda pekerjaan yang seharusnya dikerjakan.  Respon lain yang mungkin terjadi adalah terlalu mempersiapkan dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Ketika tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, mereka akan merasa kewalahan, kecewa, dan memandang hal tersebut sebagai kegagalan besar. Sementara, jika tujuan yang ditetapkan berhasil, mereka akan menghubungkan kesuksesan yang diraih dengan keberuntungan daripada hasil kerja keras dan kemampuan yang dimiliki. Siklus yang muncul tersebut bahkan dapat menyebabkan mereka menghindari menerima pujian dan umpan balik yang positif atas pencapaian yang dimiliki.

Impostor syndrome dapat menyebabkan dampak negatif pada karir karena seseorang lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuktikan kompetensi yang dimiliki. Hal tersebut tentu melelahkan dan kontraproduktif. Dampak negatif yang mungkin terjadi adalah kehilangan peluang karir karena terus menerus merasa tidak layak, meskipun memiliki kompetensi yang cukup.

 

Cara Mengatasi Impostor Syndrome

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif impostor syndrome, antara lain:

  1. Sadari tidak ada yang sempurna

Mulai belajar untuk tidak terlalu terpaku pada hasil yang harus sempurna dan sebaliknya sadarilah bahwa semua orang tidak perlu menjadi sempurna. Hal ini bukan berarti menurunkan kualitas, namun berfokus untuk terus melakukan hal kecil secara bertahap dengan baik. Beri penghargaan kepada diri sendiri karena tidak menyerah kepada tujuan yang telah ditetapkan.

  1. Kenali diri, akui kekuatan dan kemampuan diri

Setiap kali muncul keraguan terhadap kesuksesan yang telah diraih, berikan waktu kepada diri sendiri untuk menuliskan kemampuan yang dimiliki serta perjuangan yang telah dilakukan. Dengan mengenali hal tersebut, kita mampu mengubah sudut pandang kita bahwa kesuksesan yang dimiliki merupakan hasil kerja keras yang telah diupayakan dan bukan hanya keberuntungan semata.

  1. Fokus terhadap apa yang bisa dipelajari daripada hasil/kinerja

Impostor syndrome cenderung menimbulkan perasaan kesalahan yang dibuat adalah kegagalan. Cara menghadapinya adalah dengan mengembangkan pola pikir positif yang dapat membantu Anda mengurangi kecemasan terhadap hasil. Anggap kesalahan sebagai proses pembelajaran yang akan menambah pengalaman dan kemampuan Anda di masa depan.

Mengatasi impostor syndrome bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Jika suatu hari saat bekerja Anda mendapat tantangan baru di luar zona nyaman, sadarilah ada banyak orang yang mengalami hal serupa dan bahwa hal ini dapat diatasi. Berhenti berfokus pada kemungkinan gagal dan anggap hal tersebut sebagai kesempatan belajar yang dapat memberikan Anda skill baru yang tidak dimiliki oleh orang lain. Selamat bertumbuh!

 

Content Contributor:
Wahyu Murcahyati

Head of Financial Analysis & Treasury