Teknologi 5G, Gerbang Menuju Era Baru Industri Keuangan

Teknologi 5G, Gerbang Menuju Era Baru Industri Keuangan

Teknologi 5G telah hadir di Indonesia dan dapat menjadi pintu gerbang menuju era baru bagi berbagai industri, termasuk industri keuangan. 5G menjanjikan banyak peningkatan, mulai dari sisi kecepatan internet, latensi yang lebih rendah, bandwidth yang lebih besar, sampai kemampuan untuk menangani konektivitas ke banyak perangkat dalam satu waktu. Hal tersebut membantu berbagai teknologi canggih untuk diimplementasikan lebih baik oleh pelaku industri, sehingga berdampak pada peningkatan pengalaman pelanggan.

Tidak seperti pendahulunya (4G), penggunaan 5G tidak terbatas hanya pada ponsel saja. Peningkatan performa yang ditawarkan oleh 5G juga dapat mengakselerasi inovasi teknologi canggih seperti Internet of Things (IoT), Augmented Reality (AR), Artificial Intelligence (AI), dan Virtual Reality (VR) untuk berkembang. Dengan begitu, para pelaku industri akan memiliki lebih banyak pilihan untuk melakukan pendekatan baru dalam menjalankan bisnisnya di era digital.

Bagi industri keuangan, adopsi 5G akan berdampak pada perubahan model bisnis para pemainnya, sehingga mentransformasi sektor keuangan dalam berbagai bentuk. Berikut adalah rangkumannya.

 

Transformasi Sektor Perbankan

 

Berbicara mengenai industri jasa keuangan, tidak bisa lepas dari sektor perbankan yang sudah mapan. Seperti halnya 4G, adopsi 5G akan mendorong sektor perbankan mengubah paradigma pelaku industri dalam banyak hal. Hal ini juga secara signifikan mereformasi cara mereka menggunakan teknologi, baik itu untuk operasi internal maupun yang melibatkan layanan ke pelanggan.

Misalnya, memangkas waktu tunggu untuk proses verifikasi identitas pelanggan baru, sampai pengecekan skor kredit pelanggan yang ingin mengajukan pinjaman. Hal ini dimungkinkan berkat peningkatan kecepatan jaringan dan besarnya data yang bisa diakses. Di samping itu, implementasi teknologi AI juga memungkinkan performa layanan keluhan pelanggan untuk menjadi lebih baik.

Bila bank meningkatkan jaringan ATM dan kiosk mereka ke 5G, pelayanan yang diberikan untuk pelanggan juga dapat menjadi lebih cepat, sehingga mereka bisa mengakses uang dalam sekejap mata. Di samping itu, 5G dapat mendukung transformasi model bisnis perbankan dari brick-and mortar menjadi digital. Contohnya adalah memfasilitasi layanan teller yang bisa diakses dari mana saja lewat smartphone, dibandingkan harus pergi ke kantor cabang.

 

Transformasi Sektor Pembayaran

 

Dengan adopsi 5G, pembayaran seluler dan digital menjadi semakin menarik di mata masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan penggunaannya. Kualitas layanan pembayaran tanpa kontak dapat meningkat dan diperluas ke saluran yang lebih canggih, seperti wearable devices, perangkat IoT, dan realitas virtual – baik berupa AR maupun VR.

5G juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan keamanan bertransaksi dalam hal pencegahan penipuan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat dan real time. Latensi yang rendah memungkinkan pemrosesan data lebih cepat dalam memverifikasi sifat transaksi, mengonfirmasi jumlah transaksi, serta memonitor ketersediaan dana. Jika digabungkan dengan data geolokasi dan ID pedagang, maka teknologi ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penipuan sehingga dapat melindungi konsumen.

Ketersediaan 5G yang lebih merata diharapkan dapat membuat penetrasi seluler dan internet menjadi lebih mudah, karena saat ini jaringan 4G dan 3G masih lebih terjangkau bagi masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal). Adanya dukungan 5G dapat mendorong adopsi internet yang lebih besar. Sehingga memungkinkan terbukanya peluang untuk memberdayakan konsumen atau pedagang menjadi agen jasa keuangan yang dapat memfasilitasi pembayaran tagihan secara daring.

 

Meningkatkan Pengalaman Pelanggan

 

Pada akhirnya, manfaat dari setiap inovasi teknologi yang lahir adalah untuk kenyamanan pelanggan. Adopsi 5G di industri keuangan akan dapat meningkatkan pengalaman mereka dalam mengakses setiap layanan keuangan yang tersedia secara lebih personal.

Misalnya, selain digunakan dalam layanan keluhan pelanggan, teknologi AI juga dapat dimanfaatkan sebagai penasehat keuangan pribadi yang dapat diakses kapan saja. Pemanfaatan big data yang ditopang oleh 5G juga memungkinkan sektor jasa keuangan untuk memberikan personalisasi layanan keuangannya dengan lebih baik, sesuai dengan profil pelanggan.

Sementara itu, teknologi canggih AR dan VR juga dapat melengkapi pengalaman digital pelanggan yang lebih mendalam. Misalnya, membantu nasabah dalam memahami transaksi perbankan mereka melalui visualisasi laporan keuangan, mensimulasikan berbagai skenario keuangan, fitur video interaktif untuk menjelaskan sebuah layanan, sampai melakukan transaksi digital berbasis VR.

 

Membangun Ekosistem Digital Indonesia Adalah Pekerjaan Bersama

 

Tidak dapat dipungkiri, teknologi 5G adalah lompatan maju dalam teknologi. Namun, 5G juga memberikan pekerjaan rumah bagi para pelaku industri untuk mengubah pola pikir dan bersinergi demi memastikan pelanggan mendapatkan pengalaman terbaik. Di samping itu, masih ada isu kebocoran data yang mengintai ekosistem digital Indonesia.

Oleh karena itu, pelaku industri keuangan perlu menerapkan pola pikir kewirausahaan yang baru untuk mengatasi tantangan yang ada saat ini. Kerja sama antar penyedia 5G, perbankan, fintech, hingga penyedia sistem pembayaran dalam menciptakan platform bisnis baru diharapkan dapat memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik kepada pelanggan.

Dengan implementasi yang tepat, 5G akan menghilangkan berbagai hambatan yang saat ini masih ditemukan pada layanan keuangan; meningkatkan operasi back-end dan front-end; serta menciptakan peluang kolaborasi baru. Sementara di sisi pelanggan, gaya hidup dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi dapat ditunjang dengan solusi pembayaran yang lebih dinamis dan optimal.

Saat publikasi, make sure section ini terpisah dari poin2 section sebelumnya. Karena judul sama besar sizenya, jadi masih terkesan satu kesatuan dengan poin2 sebelumnya.

Mengenal Latte Factor dan Dampaknya Pada Keuangan Pribadi

Mengenal Latte Factor dan Dampaknya Pada Keuangan Pribadi

Istilah latte factor dipopulerkan oleh penulis finansial Amerika Serikat ternama David Bach. Istilah ini mengacu pada berbagai pengeluaran kecil yang sifatnya rutin sehingga memberikan dampak yang cukup besar pada keuangan pribadi. Padahal, pengeluaran tersebut sifatnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan.

Kata “latte” diambil dari salah satu jenis penyajian kopi yang cukup populer yakni Caffè Latte, yang merupakan campuran kopi dengan susu dan memiliki lapisan busa tipis di bagian atasnya. Penggunaannya dalam latte factor merujuk pada kebiasaan orang yang tanpa sadar membeli kopi secara rutin dengan tujuan meningkatkan produktivitasnya.

Menurut David Bach, kopi adalah salah satu pengeluaran skala kecil yang total pengeluarannya bisa melebihi biaya listrik dan air jika dilakukan secara rutin dalam sebulan. Pengeluaran untuk kopi tersebut sebenarnya tidak penting. Namun, karena terus menerus dilakukan, dampaknya akan terasa pada pengelolaan keuangan.

 

Latte Factor di Era Digital

 

Berbicara mengenai latte factor tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan keuangan. Latte factor sendiri bukan hanya tentang konsumsi kopi yang berlebihan, tetapi juga mendeskripsikan berbagai macam pengeluaran kurang penting yang rutin dilakukan. Contoh, pengeluaran untuk membeli camilan, makan di luar, rokok, membeli minuman dalam kemasan, dan masih banyak lagi.

Pengeluaran kecil dan tidak mendesak yang dapat berkembang menjadi latte factor seseorang juga terjadi di era digital. Contoh, seorang karyawan dapat menghabiskan Rp360.000 – Rp648.000 dalam 24 hari kerja jika dia terbiasa naik moda transportasi online untuk berangkat kerja. Dasar dari asumsi tersebut dari perhitungan ongkos termurah sekitar Rp15.000 dan Rp27.000 untuk ongkos termahal di jam sibuk dengan moda transportasi berupa sepeda motor.

Namun, perhitungan pengeluaran tersebut baru berdasarkan biaya perjalanan berangkat kerja dari tempat tinggal ke kantor. Jika karyawan yang sama memilih untuk menggunakan moda transportasi online untuk pulang ke rumah setelah bekerja, pengeluarannya bisa melonjak menjadi dua kali lipat atau lebih.

Selain moda transportasi online, biaya ekstra dalam layanan perbankan juga dapat menjadi latte factor. Nasabah dapat menghabiskan uang hingga ratusan ribu rupiah jika mereka rutin melakukan aktivitas transfer antar bank. Misalnya, mentransfer uang antar bank setidaknya satu kali sehari selama 30 hari dengan biaya transfer sekitar Rp6.500 per transaksi.

Kedua contoh di atas adalah latte factor yang sudah umum terjadi saat ini. Namun, meminimalkan latte factor bukan berarti melarang seorang karyawan untuk berangkat kerja dengan menggunakan moda transportasi online atau melarang nasabah untuk mentransfer uang ke bank yang berbeda.

Seorang karyawan dapat pulang-pergi ke kantor dengan menggunakan moda transportasi online lebih hemat pada saat dia mendapatkan promo potongan harga. Jika sedang tidak ada promo, dia dapat menggunakan bus Transjakarta atau Angkutan Kota yang lebih murah. Ia juga bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor untuk menghindari macet.

Begitu juga dengan nasabah bank. Dia bisa menggunakan ATM Link yang menawarkan layanan perbankan seperti cek saldo, tarik tunai, dan transfer dengan biaya lebih terjangkau. Selain itu, aplikasi dompet digital atau aplikasi pihak ketiga yang menawarkan biaya transfer lebih murah hingga gratis dapat turut menjadi solusi.

Sementara itu bagi penggemar belanja online, program promosi dari marketplace bisa menjadi solusi sederhana untuk meminimalisir latte factor. Contohnya adalah promosi gratis ongkos kirim, cashback, diskon, dan masih banyak lagi.

 

Menangani Latte Factor

 

Langkah terbaik untuk mengidentifikasi latte factor yang kita miliki adalah dengan melacaknya. Caranya adalah dengan membuat catatan pengeluaran untuk setiap sen yang kita keluarkan setiap hari. Manfaatkan juga fitur mutasi rekening untuk melacak pengeluaran dan pemasukan.

Pencatatan pengeluaran tersebut harus dilakukan secara konsisten setidaknya selama satu hingga tiga bulan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan begitu, kita bisa mengidentifikasi area terlemah dalam pengeluaran dengan lebih baik. Jika sudah menemukannya, kita bisa mengurangi latte factor sesuai dengan kemampuan finansial kita.

Meski begitu, latte factor sendiri bukan tentang mengorbankan kebahagiaan yang berhak kita dapatkan dari “latte” dalam secangkir kopi. Ini tentang bagaimana kita bisa menyaring hal-hal yang memberi nilai lebih pada hidup kita.

Jika kita dapat mengurangi atau bahkan meniadakan pengeluaran ekstra, hidup kita akan menjadi lebih baik. Kita bisa mengalihkan uang ekstra tersebut untuk keperluan yang lebih bermanfaat. Contohnya adalah investasi untuk hari tua, investasi kesehatan, investasi biaya pendidikan, dan masih banyak lagi.

Sinergi Kerja Sama Bank Sumut dan Jalin untuk Kemajuan Indonesia

Sinergi Kerja Sama Bank Sumut dan Jalin untuk Kemajuan Indonesia

Bank Sumut dan Jalin (PT Jalin Pembayaran Nusantara) telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama keanggotaan yang dilakukan secara online pada Rabu, 18 Agustus 2021. Momen penandatanganan ini menandai secara resmi bergabungnya Bank Sumut sebagai anggota BPD buku II terbesar dalam Jaringan Link yang dikelola Jalin. Diharapkan, sinergi kerja sama antara kedua perusahaan dapat terjalin dengan tangguh demi kemajuan industri sistem pembayaran di Republik Indonesia.

Acara penandatangan kerja sama tersebut dihadiri oleh Bapak Boyke Yurista selaku CEO Jalin dan didampingi oleh Bapak Eddy Sofryano selaku COO Jalin, Bapak Aries Barkah selaku CCO Jalin, Bapak Fajar Adimarta selaku CTO Jalin, Ibu A. Pawitra selaku CFO Jalin, dan beberapa karyawan Jalin. Selain itu hadir pula Bapak Rahmat Fadillah Pohan selaku Direktur Operasional Bank Sumut dengan didampingi oleh Bapak Hadi Sucipto selaku Direktur Pemasaran Bank Sumut, Bapak Irwan selaku Direktur Bisnis & Syariah, Bapak Eksir selaku Direktur Kepatuhan, dan beberapa kepala divisi dengan pegawai Bank Sumut.

 

Dengan penandatanganan kerja sama ini, nasabah Bank Sumut kini dapat melakukan transaksi melalui jaringan ATM Link yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Saat ini, jumlah ATM Link sendiri telah mencapai 43.000 unit.

Melalui kerja sama ini. Bank Sumut dan Jalin siap tumbuh dan bersinergi bersama untuk mempertangguh industri sistem pembayaran demi kemajuan negara Republik Indonesia tercinta.

 

Dokumentasi acara

 

Pengumuman Pemenang #JalinxMandiriChallenge Photo Competition Generasi Tangguh

Pengumuman Pemenang #JalinxMandiriChallenge Photo Competition Generasi Tangguh

Selamat kepada 8 orang pemenang #JalinxMandiriChallenge Photo Competition Generasi Tangguh periode 17-23 Agustus 2021

Juara 1: @putriascita mendapatkan Samsung Galaxy A02s
Juara 2: @rohmat_nasution mendapatkan SHARP Air Purifier
Juara 3: @kristoforustampubolon mendapatkan Xiaomi Mi Watch Lite

5 Juara favorit mendapatkan Saldo LinkAja masing-masing Rp 100.000
@nurma_wibisono
@elfinarifqi
@rexi_ag
@m4smus
@afrianilestari

Terima kasih sudah berpartisipasi, sekali lagi selamat. Ikuti terus Instagram @jalin.id & @bankmandiri!

Di Balik Tren Transaksi Digital Indonesia yang Tumbuh Pesat

Di Balik Tren Transaksi Digital Indonesia yang Tumbuh Pesat

Transaksi digital adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari di tengah derasnya laju inovasi teknologi. Di Indonesia, situasi ini terlihat dari perubahan perilaku masyarakat yang semakin sering menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi untuk memfasilitasi kegiatan transaksi non-tunai mereka. Beberapa layanan yang merasakan pertumbuhan positif ini adalah kartu debit, uang elektronik, sampai digital banking.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital Indonesia pada tahun 2021 akan terus tumbuh sejalan dengan meningkatnya ekspektasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring. Pertumbuhan tersebut tercermin pada peningkatan signifikan dari volume dan nilai transaksi berbagai metode pembayaran non tunai yang memanfaatkan layanan teknologi terkini.

Menurut catatan BI, nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada bulan Mei 2021 mencapai Rp23,7 triliun, atau meningkat 57,38% (yoy). Di samping itu, volume transaksi digital banking juga terus tumbuh dan tercatat meningkat hingga 56,49% (yoy), atau mencapai 601,2 juta transaksi pada Mei 2021 dengan nilai transaksi yang tumbuh 66,41% (yoy) sebesar Rp3.117,4 triliun.

Sementara nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, Kartu Debit, dan Kartu Kredit pada Mei 2021 juga tumbuh sebesar 21,03% (yoy) dengan total Rp689,7 triliun. Salah satu pendorong pergerakan positif ini adalah peningkatan aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H di tengah situasi pandemi.

Di balik pertumbuhan pesat tersebut, ada peran berbagai pelaku industri keuangan yang berupaya mendorong kemajuan sistem pembayaran digital di Indonesia. Salah satu di antaranya yaitu Penyelenggara Infrastruktur Sistem Pembayaran (PIP) seperti lembaga switching. Meski tidak berinteraksi langsung dengan nasabah, lembaga switching memungkinkan terjadinya proses transaksi antar bank, sehingga memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan.

Dalam pengertian sederhana, switching di dalam industri pembayaran adalah sistem elektronik yang dipakai untuk menghubungkan jalur komunikasi antar bank. Dengan begitu, pemrosesan data transaksi antar bank dan pelaku industri keuangan digital lainnya dapat berjalan dengan mulus.    

 

Peran aktif Jalin dalam memfasilitasi pertumbuhan transaksi digital di Indonesia

 

Di Indonesia, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) adalah salah satu lembaga switching berpengalaman yang menunjang sistem pembayaran dan transaksi digital tanah air. Jalin saat ini memiliki dua layanan Utama, yaitu Switching dengan brand “Link” dan Managed Service untuk mesin ATM. Selain itu, Jalin juga berinovasi melalui pengembangan platform digital yang modern dan terintegrasi seiring dengan kebutuhan transaksi yang terus bertransformasi di era digital.

Pengelolaan switching untuk mendukung transaksi 35 bank dan non bank member Jalin memiliki tiga lingkup layanan, yaitu ATM Switching, Debit Switching dan QR Switching. Ketiga layanan tersebut memungkinkan nasabah untuk melakukan kegiatan transaksi dengan lancar dan nyaman. Contohnya, ketika nasabah melakukan kegiatan transaksi penarikan tunai, cek saldo, transfer dana, atau pembayaran tagihan melalui seluruh channel perbankan yang tergabung dalam jaringan switching Link.

Sementara itu, Managed Service (MS) menawarkan layanan pengelolaan dan pemeliharaan ATM dari hulu ke hilir. Lingkup pelayanannya terdiri dari Penyewaan Mesin ATM, Second Level Maintenance ATM, Jasa Pemeliharaan Premises ATM, ATM Cash Monitoring & Forecasting, Layanan Monitoring ATM 24/7, sampai Branding ATM.

Kolaborasi dan sinergi dengan BUMN maupun mitra profesional yang bergerak di sektor jasa keuangan juga terus dijalin dan diperkuat. Dengan begitu, kualitas layanan operasional serta pengembangan inovasi digital dan physical channel seperti ATM, CDM, dan CRM dapat terus ditingkatkan.  Ini adalah salah satu langkah yang diambil Jalin untuk menghubungkan masyarakat dengan ekosistem finansial dan ekosistem non finansial, sehingga tercipta sistem pembayaran yang aman, terintegrasi, interkoneksi dan interoperabilitas yang efisien.

Ke depannya, Jalin juga akan memperluas layanannya meliputi QRIS cross-border, sharing infrastruktur, dan technical support untuk setiap layanan perbankan. Hal tersebut sesuai dengan visi Jalin sebagai The National Digital Highway sehingga masyarakat dapat menikmati layanan transaksi yang aman, nyaman dan efisien.

Lima Keunggulan Kartu ATM Berbasis Chip

Lima Keunggulan Kartu ATM Berbasis Chip

Saat ini, bank-bank di Indonesia tengah mengimbau para nasabah untuk mengganti kartu ATM berbasis magnetic stripe yang digunakan menjadi kartu ATM berbasis chip. Langkah tersebut adalah tindak lanjut dari surat edaran yang dikeluarkan Bank Indonesia terkait penggantian kartu ATM. Jika tidak dilakukan, nasabah tidak akan bisa bertransaksi karena kartu ATM berbasis magnetic stripe akan diblokir penggunaannya per 21 Desember 2021 mendatang.

Pemblokiran ini sesuai dengan Surat Edaran BI Nomor 17/52/DKSP tentang Implementasi Standar Nasional Teknologi Chip dan Penggunaan Personal Identification Number pada Kartu ATM dan/ atau Kartu Debit yang diterbitkan di Indonesia. Kartu ATM berbasis chip sendiri sudah banyak digunakan oleh sistem perbankan di berbagai negara dan menjadi standar global.

Salah satu tujuan penggantian kartu ATM menjadi berbasis chip ini adalah untuk meningkatkan keamanan. Bank Indonesia sendiri telah menetapkan NSICCS sebagai standar nasional teknologi chip pada kartu ATM/ Debit yang disusun dengan mengacu pada EMV dan global platform. NSICCS merupakan singkatan dari National Standard for Indonesian Chip Card Specification.

Lantas, apa saja keunggulan kartu ATM/Debit berbasis chip ini? Simak penjelasan berikut ini.

 

1. Bertransaksi Menjadi Lebih Aman

 

Salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh kartu ATM berbasis chip adalah keamanan. Hal ini berkat teknologi chip yang tertanam di dalam kartu yang dapat menyimpan Personal Identification Number (PIN) dan hanya bisa diproses apabila PIN dimasukkan pada mesin ATM atau EDC yang benar.

 

2. Sulit Untuk Digandakan

 

Kartu ATM berbasis chip juga sulit untuk digandakan karena data yang tersimpan di dalam chip hanya bisa diverifikasi keasliannya dengan metode offline dan online CAM (Card Authentication Method) yang lebih aman. Sedangkan data pada kartu ATM berbasis magnetic stripe mudah digandakan karena tersimpan pada pita magnetik yang tidak memiliki proteksi PIN.

 

3. Memiliki Kapasitas Penyimpanan Data yang Lebih Besar

 

Kartu ATM berbasis chip juga memiliki kapasitas penyimpanan data yang lebih besar bila dibandingkan dengan kartu ATM berbasis magnetic stripe. Hal tersebut tidak lepas dari teknologi chip yang memiliki CPU, memory, sistem operasi, aplikasi, dan fungsi kriptografi di dalamnya sehingga akan mempengaruhi kecepatan transaksi.

 

4. Dapat   dengan Nominal yang Lebih Besar

 

Nominal transaksi yang bisa dilakukan oleh nasabah pemilik kartu ATM berbasis chip bisa lebih tinggi dibandingkan dengan nasabah pemilik kartu ATM berbasis magnetic stripe. Bank Indonesia sendiri telah menaikkan batas tarik tunai lewat mesin ATM bagi para pemilik kartu berbasis chip, dari maksimal Rp10 juta per hari menjadi Rp15 juta per hari. Sedangkan untuk transfer antarbank naik menjadi Rp50 juta per hari dari maksimal Rp25 juta per hari. Limit ini disesuaikan juga dengan jenis kartu dan kebijakan dari bank penerbit kartu.

 

5. Fisik Kartu yang Kuat

 

Jika dibandingkan dengan kartu ATM berbasis magnetic stripe, fisik kartu berbasis chip jauh lebih kuat. Hal tersebut tidak lepas dari teknologi chip yang memiliki CPU dan memory yang tertanam dalam kartu dan perlu perlindungan yang lebih kuat.

 

Tetap Waspada Saat Bertransaksi

 

Tujuan utama dari mengganti kartu ATM berbasis chip adalah untuk meningkatkan keamanan saat bertransaksi. Namun, modus kejahatan seseorang untuk memperkaya diri juga akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi itu sendiri.

Contohnya, modus penipuan terbaru yang meminta nasabah untuk melakukan penggantian kartu lewat sambungan telepon atau via chat dengan mengatasnamakan sebuah bank tertentu. Oleh karena itu, penting menjadi seorang nasabah yang cerdas dan waspada terhadap kejahatan yang bisa saja terjadi.

Langkah ini bisa dimulai dari membiasakan diri mengganti PIN secara berkala, membiasakan diri untuk melakukan transaksi di tempat yang ramai, dan selalu mengecek mutasi secara berkala agar bisa segera mengetahui bila ada transaksi mencurigakan.