Secara umum, setiap orang yang memulai bisnis atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)  memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan keuntungan dan kehidupan yang lebih baik. Berbagai jenis upaya  dilakukan oleh mereka agar bisnis  dapat bertumbuh dengan pesat dan menghasilkan keuntungan. Tetapi, masih banyak hambatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Bagi orang-orang yang belum pernah memulai bisnisnya sendiri, keputusan untuk membangun sebuah usaha bisa membuat mereka kewalahan karena banyaknya hal baru yang perlu dipelajari dan dilakukan. Namun, kesempatan membangun usaha di Indonesia memang masih terbuka lebar. Dari data BPS, Indonesia sudah memiliki 65,5 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkat 1,98% dibandingkan tahun sebelumnya.

Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa sudah ada lebih dari 15 juta UMKM atau sekitar 22% dari total UMKM di seluruh di Indonesia yang sudah onboarding ke platform perdagangan elektronik hingga pertengahan Agustus 2021. Dengan pertumbuhan positif tersebut, pemerintah menargetkan 30 juta UMKM untuk onboarding ke platform digital pada akhir 2023.

Akan tetapi, peluang bisnis tidak dapat berkembang atau malah gulung tikar juga masih ada bila pebisnis pemula mengambil serangkaian keputusan yang salah. Oleh karena itu, pebisnis pemula perlu membuat perencanaan yang matang terlebih dahulu agar bisnis yang dibangun nanti lebih terarah dan terstruktur. Agar lebih jelas, berikut ini lima tips memulai bisnis kecil dan menengah yang bisa dilakukan oleh para pemula:

 

Memvalidasi Ide

 

Validasi ide adalah proses pengujian sebelum seorang yang ingin memulai bisnis meluncurkan nama, slogan, produk, layanan, atau website-nya. Ini merupakan serangkaian proses penelitian dan pengembangan yang digunakan perusahan besar untuk menguji ide produk sebelum dirilis ke masyarakat umum. Proses validasi ide  dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti survei, wawancara, sampai riset dengan tujuan untuk mendapatkan hasil terbaik.

Sebagai contoh, orang yang ingin membangun bisnis di bidang makanan dan minuman bisa melakukan validasi ide resep dengan melakukan “smokescreen” melalui iklan online yang diarahkan ke sebuah situs khusus. Di situs tersebut, pengunjung dapat mendaftarkan email mereka untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang pembukaan restoran, kafe, peluncuran resep baru yang digabung dengan penawaran potongan harga. Bila ada banyak orang yang mendaftarkan email-nya, artinya ide bisnis yang ingin dibangun oleh orang tersebut memiliki peminat.

 

Melakukan riset pasar

 

Setelah memvalidasi ide bisnis, langkah berikutnya adalah mengeluarkan modal untuk melakukan riset pasar agar bisnis yang akan dibangun dapat diterima dengan baik oleh konsumen. Hal ini sangat penting dilakukan agar bisnis yang dibangun bisa berkelanjutan untuk jangka panjang. Riset pasar adalah kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data yang berhubungan dengan target pasar dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan target pasar itu sendiri. Namun, perlu diingat juga bahwa riset pasar yang dilakukan harus sesuai dengan bisnis yang akan dikembangankan.

Sebagai contoh, orang yang ingin memulai bisnis di bidang fesyen perlu melakukan riset tentang warna yang menjadi favorit konsumen, gaya busana yang sedang naik daun, influencer fesyen populer, platform online terbaik untuk berjualan daring, dan masih banyak lagi. Sementara orang yang ingin berbisnis di bidang makanan dan minuman perlu meriset hal berbeda. Mereka perlu mempelajari bahan baku terbaik untuk resepnya, ukuran dan bentuk kemasan untuk produknya, desain interior untuk restoran atau kafenya, sampai platform online mana yang sesuai untuk memasarkan bisnisnya, dan masih banyak lagi.

 

Menerapkan sistem manajemen dan identifikasi risiko

 

Setiap bisnis pasti punya risiko masing-masing, baik itu dari sisi sumber daya manusia, bahan produksi, sampai musibah seperti kebakaran dan bencana alam. Oleh sebab itu, pemilik bisnis harus memiliki pengetahuan cara mengidentifikasi risiko bisnis yang dijalankannya agar bisa mengimplementasikan manajemen risiko yang tepat untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan.

Di samping manajemen risiko, pemilik bisnis juga perlu memperhatikan sistem manajemen lain seperti manajemen keuangan, manajemen SDM atau pegawai, manajemen pemasaran, manajemen produksi, manajemen pengembangan, dan manajemen pemulihan. Manajemen merupakan proses sistematis dalam pengorganisasian yang memungkinkan anggota organisasi melakukan pengendalian dan pengawasan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Jika pemilik bisnis memiliki wawasan tentang sistem manajemen dan menerapkannya dengan tepat, pengelolaan bisnis pun bisa menjadi lebih mudah. Bisnis yang dijalankan pun bisa berkembang dan berkelanjutan.

 

Menyusun strategi pemasaran

 

Seorang pemilik bisnis perlu mengetahui cara memasarkan produk atau jasa yang dimilikinya dengan efektif agar bisnisnya bisa berkembang. Langkah awalnya bisa dimulai dengan menggunakan data hasil riset yang sudah dilakukan sebelumnya. Dari data tersebut, pemilik bisnis harus menentukan segmentasi pasarnya, menentukan target  serta posisi produk atau jasanya di pasar tersebut.

Di samping itu, pemilik bisnis juga bisa memanfaatkan saluran pemasaran daring yang bisa digunakan secara gratis seperti media sosial atau membuka toko di marketplace untuk memperluas jangkauan pemasaran. Jika harus mengeluarkan biaya, manfaatkan platform periklanan dari media sosial atau marketplace yang digunakan untuk mendongkrak penjualan.

 

Melakukan inovasi

 

Kreativitas sangat dibutuhkan dalam menjalankan bisnis agar usaha yang dijalankan dapat tetap relevan dengan zaman yang berkembang serba cepat seperti sekarang. Jika pebisnis tidak berani untuk berkreasi dan berinovasi, bisa jadi bisnisnya akan gulung tikar.

Saat ini, inovasi dalam berbisnis bisa datang dalam berbagai bentuk. Pemilik bisnis bisa melakukan inovasi dalam hal produk dan jasa yang dimiliki seperti membuat resep unik terbaru, mendesain pakaian yang bekerja sama dengan tokoh terkenal, atau memberikan gift dalam bentuk cashback ataupun bebas ongkos kirim atas setiap transaksi dilakukan.

Selain itu, pebisnis juga bisa merambah inovasi teknologi terkini untuk memudahkan konsumen dalam bertransaksi, berkomunikasi, dan menemukan produk atau jasa yang dimiliki. Sebagai contoh, menggunakan pembayaran contactless seperti QRIS untuk melakukan transaksi pembelian produk atau jasa, membangun website sendiri untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, dan masih banyak lagi.

 

Berani ambil risiko

 

Berawal dari sebuah mimpi yang melahirkan ide fantastis, seseorang sudah dapat memulai bisnis kecilnya dalam industri apa saja di era digital seperti saat ini. Di saat yang bersamaan, bisnis tersebut juga memiliki potensi untuk mengancam brand lain yang sudah lebih dahulu hadir di dalam sebuah ekosistem. Namun, itu semua hanya akan menjadi ilusi semata bila pemilik usaha tidak mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi munculnya kompetitor-kompetitor baru.

Memulai sebuah bisnis, dalam bentuk apa pun, sebenarnya memang bukan perkara mudah. Tidak semua hal yang sudah direncanakan sebelumnya dapat berjalan lancar tanpa kendala. Pemilik usaha pasti akan bertemu dengan berbagai masalah dalam perjalanan membangun bisnisnya.

Ketika mereka kehabisan modal, salah satu cara paling cepat dan menjadi favorit untuk menyelesaikannya adalah dengan mencari dana pinjaman sebagai pendanaan. Jika momentumnya tepat, pendanaan tersebut dapat menjadi momentum yang luar biasa dalam mengakselerasi bisnisnya. Namun, di saat yang bersamaan, pendanaan segar yang didapat dari pinjaman juga berpotensi untuk menjadi sebuah lingkaran setan yang menuntun ke arah penutupan bisnis bila pemilik usaha tidak mengimbanginya dengan wawasan manajemen serta mitigasi risiko yang baik, khususnya terkait dengan aspek keuangan.

Di sisi lain, inovasi yang dianggap kreatif tanpa memahami masalah yang harus dipecahkan juga dapat menjadi isu yang menghantui pemilik bisnis. Pada umumnya mereka baru menyadari hal ini setelah menyadari bisnisnya menjadi sulit untuk berkembang lagi. Jika ini terjadi, mau tidak mau harus ada evaluasi terkait inovasi yang dilakukan.

Berbisnis dengan modal ide yang fantastis, dana yang besar, dan keberanian saja tidak cukup. Pemilik usaha perlu mengimbangi modal yang dimiliki dengan wawasan lain seperti pengetahuan tentang manajemen, tren pasar, sampai teknologi yang sedang naik daun. Kalau tidak dilakukan, pemilik usaha akan berhadapan dengan sempitnya ruang untuk berkembang dan kompetisi pasar yang tidak sehat karena diisi dengan pemain lain yang memiliki modal lebih banyak dan menjadi predatory pricing.

Jadi, bila ingin terjun ke dunia bisnis, pemilik bisnis memang harus punya banyak modal. Namun, bukan modal dalam bentuk uang saja, tetapi juga modal pengetahuan manajemen, pengetahuan pasar, pengetahuan tren teknologi, sampai harus punya mental yang kuat. Dengan begitu, bila bertemu kegagalan dan jatuh berkali-kali, mereka akan tetap memiliki keberanian untuk bangun dan belajar lebih banyak. Intinya, jangan takut untuk mengambil risiko.